Selamat Pagi...
Bayangkan... sebuah candi tua, bukan berdiri megah sejak dulu, tapi justru terkubur dalam diam di bawah tanah selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Itulah yang kami rasakan saat kembali menginjakkan kaki di Candi Blandongan, bagian dari kawasan bersejarah Situs Batujaya.
Ini adalah kunjungan kami yang kedua.
Tahun 2004... tempat ini belum seperti sekarang. Masih berupa gundukan tanah, sebagian ditutup seng seadanya. Saat itu perhatian lebih tertuju ke Candi Jiwa yang sudah lebih dulu digarap.

Namun tahun 2020, kami kembali...
Dan jujur, rasanya seperti melihat masa lalu yang perlahan bangkit dari tidur panjangnya.
Alhamdulillah... kini bentuk candi sudah mulai terlihat jelas, meskipun belum sepenuhnya rampung.
Candi ini unik. Tidak seperti kebanyakan candi di Indonesia yang berbahan batu andesit, Candi Blandongan tersusun dari bata merah dengan struktur yang menurut analisis sudah mengenal semacam "lantai beton kuno". Campurannya berasal dari cangkang kapur, karang, dan pasir-teknologi yang luar biasa untuk zamannya.
Bahkan, dari hasil analisis karbon (radiometrik karbon-14) pada artefak yang ditemukan, para ahli meyakini bahwa ini adalah salah satu candi tertua yang pernah dibangun di Bumi Nusantara.
Kami beruntung saat itu...
Bertemu dengan Mas Sunarto, yang dengan sabar menjelaskan detail demi detail sejarah dan proses penemuan situs ini. Dari cara penggalian, struktur bangunan, sampai cerita bagaimana kawasan ini dulu terkubur oleh tanah selama berabad-abad.
Dan yang paling membuat kami tertegun...
Semua situs di kawasan ini awalnya berada di bawah tanah.
Bukan berdiri di atas seperti candi-candi lain yang sudah kita kenal.
Artinya... apa yang kita lihat sekarang hanyalah hasil dari proses panjang penggalian.
Masih ada sekitar 14 situs lagi yang belum digarap. Bukan karena tidak penting... tapi karena keterbatasan biaya.

Bayangkan itu kompasianer...
Masih ada sejarah besar yang masih "tidur" di bawah kaki kita.
Perjalanan kali ini terasa semakin lengkap karena saya ditemani oleh dua anak perempuan saya. Sementara si sulung laki-laki sedang bekerja di luar daerah.
Ada rasa haru tersendiri...
Bisa membawa anak-anak melihat langsung jejak peradaban masa lalu, bukan sekadar dari buku atau cerita.
Karena di tempat seperti ini, kita bukan hanya melihat batu bata...
Tapi melihat jejak manusia, peradaban, dan waktu yang panjang.

Penutup
Kalau kompasianer dan teman-teman suka sejarah, atau sekadar ingin merasakan suasana yang berbeda...
Cobalah datang ke sini.
Datanglah bukan hanya untuk melihat...
Tapi untuk merenung, bahwa tanah yang kita pijak ini menyimpan cerita yang jauh lebih tua dari yang kita bayangkan.
Siapa tahu...
Langkah kita hari ini, berdiri di atas sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.
Yuk, sempatkan berkunjung ke Candi Blandongan.
Sebelum semuanya terungkap... dan sebelum kita lupa bahwa kita punya sejarah sebesar ini.