Video Pilihan

"Mengejar Matahari Sebelum Dunia Terbangun"

28 Juni 2026   15:00 Diperbarui: 28 Juni 2026   07:19 151 13 5

A Day in My Life

Catatan dari Saung APA, 620 MDPL

Episode 2 - Mengejar Matahari Sebelum Dunia Terbangun

"Koleksi: Misbah Moerad."

Pukul tiga dini hari.

Angin di luar sedang menunjukkan kekuatannya. Kaca pintu sesekali bergetar diterpa hembusan yang datang tanpa henti. Dari dalam saung, suara dedaunan yang saling bergesekan terdengar seperti irama alam yang hanya bisa dinikmati ketika sebagian besar manusia masih terlelap.

Seperti biasa, saya bangun tepat pukul 03.00.

Rutinitas pertama tentu membersihkan diri. Namun pagi ini ada keinginan yang berbeda. Sebelum menuju kamar mandi, saya membuka pintu saung dan melangkah keluar.

Bruk...

Hembusan angin langsung menerpa tubuh. Dingin pegunungan di ketinggian 620 meter di atas permukaan laut benar-benar terasa hingga ke tulang.

Saya berdiri beberapa saat menikmati suasana.

Saya melihat dapur kecil di samping mushola saung.

Melihat saung lesehan di pojok.

Melihat area parkir yang kosong.

Melihat lokasi camping yang masih sunyi.

Tak ada suara manusia.

Hanya angin, dedaunan, dan alam yang sedang berbicara.

Pemandangan seperti ini selalu membuat saya sadar bahwa alam tidak pernah benar-benar tidur.

Usai membersihkan diri dan melakukan rutual pagi, pukul 04.30 saya berjalan menuju masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Sebelum berangkat, istri mengunci pintu saung.

Sambil memakai sandal saya berkata kepadanya,

"Pagi ini kita mendaki ya... melihat matahari terbit. Sepertinya pagi ini bakal indah."

Istri hanya tersenyum.

Ia sudah paham, kalau saya berkata seperti itu berarti kamera, sepatu hiking, dan semangat petualangan harus segera disiapkan.

Pukul 05.02 saya kembali ke saung.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Istri masih mengenakan mukena. Ia membukakan pintu, lalu kembali melanjutkan membaca Al-Qur'an.

Saya pun mengambil mushaf.

Sejak dulu kami membiasakan diri membaca satu atau dua lembar setiap selesai salat Subuh.

Bukan karena banyak sedikitnya bacaan yang kami kejar.

Tetapi karena kami percaya, Al-Qur'an adalah sahabat yang akan menemani perjalanan panjang setelah kehidupan ini berakhir.

Semoga kelak ia menjadi cahaya di alam kubur dan pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya.

Pukul 05.15.

Kami sudah berganti pakaian hiking.

Langit masih gelap, tetapi justru itulah waktu terbaik untuk mulai melangkah.

Kalau terlalu siang, sensasi menyambut matahari dari atas bukit akan hilang.

Target kami pagi ini tidak jauh.

Hanya sampai sekitar ketinggian 650 meter.

Biasanya kalau hari Sabtu atau Ahad kami melanjutkan hingga Bukit Alesano di sekitar 900 MDPL. Namun pagi ini kami harus turun lebih awal karena pukul sembilan kami berencana menghadiri perayaan Hari Jadi Kota Bogor di Lapangan Sempur.

Langkah demi langkah kami nikmati.

Udara pagi terasa begitu segar.

Kabut masih menggantung di sela pepohonan.

Lalu...

Perlahan warna langit mulai berubah.

Semburat jingga muncul dari balik perbukitan.

Masya Allah...

Sulit menggambarkan keindahan itu dengan kata-kata.

Matahari pagi selalu mengajarkan satu hal.

Ia tidak pernah terburu-buru.

Tetapi selalu datang tepat pada waktunya.

Kami mengabadikan beberapa foto dan video.

Terlalu asyik menikmati suasana hingga tidak menyadari ternyata ada satu keluarga dari Jakarta yang juga sedang mendaki.

Rupanya mereka menginap di salah satu vila di sekitar sini.

Beberapa saat kami saling menyapa.

Begitulah gunung.

Orang-orang yang bahkan baru bertemu pun terasa seperti teman lama.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Setelah cukup menikmati hangatnya cahaya pagi, kami memutuskan turun.

Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan dua orang remaja yang baru memulai pendakian.

Salah satunya bertanya sambil tersenyum,

"Jam berapa naiknya, Om? Kok jam segini sudah turun?"

Saya menjawab,

"Habis Subuh tadi kami naik. Kami hanya sampai sekitar ketinggian 650 meter. Tidak sampai Bukit Alesano. Ada yang ingin kami lihat dulu di bawah. Hati-hati ya... selamat mendaki."

Mereka mengangguk sambil melanjutkan perjalanan.

Kami pun kembali menuruni jalur yang mulai ramai.

Hari baru benar-benar dimulai.

Dan saya kembali belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari perjalanan yang jauh.

Kadang, kebahagiaan hanya perlu bangun lebih pagi, bersujud lebih lama, membaca beberapa lembar Al-Qur'an, lalu berjalan bersama orang yang kita cintai untuk menyambut matahari sebelum dunia terbangun.

Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi tentang siapa yang paling mampu mensyukuri setiap langkah menuju ke sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7