"Setiap perjalanan pasti memiliki garis akhir. Namun kenangan yang dibawa pulang sering kali justru menjadi awal dari keinginan untuk kembali."
Subuh masih menyelimuti kawasan Ujung Kulon ketika kami bersiap meninggalkan penginapan.
Udara pagi terasa sejuk.
Suara alam menjadi pengiring langkah kami sebelum kendaraan kembali melaju meninggalkan ujung barat Pulau Jawa.
Saya sempat berkata kepada istri,
"Rasanya baru kemarin kita berangkat dari rumah."
Beliau tersenyum.
"Begitulah kalau sedang menikmati perjalanan. Waktu selalu terasa berjalan lebih cepat."

Perjalanan hari ketiga sekaligus hari terakhir kami dimulai menuju salah satu tempat yang sejak lama ingin kami kunjungi...
Kampung Suku Baduy.
Kami akhirnya tiba di kawasan Baduy Luar.
Sayangnya, kami belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Baduy Dalam.
Untuk memasuki wilayah tersebut, pengunjung harus mengurus izin beberapa hari sebelumnya, bersedia menginap, serta mematuhi berbagai aturan adat yang hingga kini tetap dijaga oleh masyarakat Baduy.
Tidak apa-apa.
Justru alasan itu menjadi penyemangat bagi kami untuk suatu hari nanti kembali lagi.
Saya sempat bercanda kepada anak-anak,
"Berarti kita punya alasan untuk datang lagi ke Banten."
Mereka langsung menjawab,
"Setuju..."

Kami pun menikmati suasana Baduy Luar dengan berjalan santai, melihat kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan kesederhanaan dan hidup berdampingan dengan alam.
Rasanya seperti kembali ke masa ketika kehidupan belum dipenuhi oleh teknologi dan kesibukan.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kampung Domba.
Suasana pedesaannya begitu asri.
Anak-anak tampak menikmati melihat aktivitas peternakan, sementara kami menghirup udara segar yang semakin sulit ditemukan di kota-kota besar.

Setelah itu kami menuju Pulau Lima.
Pemandangan alamnya memberikan suasana tenang.
Tidak banyak keramaian.
Justru ketenangan itulah yang menjadi daya tariknya.
Kami duduk sejenak menikmati angin sambil mengabadikan beberapa foto keluarga.

Perjalanan terus berlanjut menuju Puncak Pinang.
Dari atas, hamparan alam Banten terlihat begitu indah.
Saya berkata,
"Kalau melihat pemandangan seperti ini, rasa capek selama perjalanan langsung hilang."
Istri hanya tersenyum sambil tetap sibuk mengambil foto.

Memang benar.
Kadang yang paling sibuk saat traveling bukan sopirnya.
Tetapi fotografer keluarga.
Dan seperti biasa...
Jabatan itu hampir selalu dipegang oleh istri.
Perjalanan berikutnya membawa kami menuju Rumah Hutan Cidampit.
Tempat ini menawarkan suasana yang tenang dengan nuansa alam yang masih sangat terasa.
Kami kembali menikmati perjalanan tanpa terburu-buru.
Karena kami sadar...
Ini adalah hari terakhir Tour Banten.
Menjelang siang kami mulai meninggalkan wilayah Banten bagian selatan.
Perjalanan pulang kami pilih melalui Tangerang.
Namun seperti kebiasaan kami selama traveling...
Kalau masih ada waktu, pasti masih mencari satu atau dua destinasi lagi.
Dan benar saja.

Kami mampir ke Tebing Gozila.
Tebing-tebing batu yang menjulang memberikan pemandangan yang unik.
Saya kembali bercanda,
"Namanya Gozila... untung yang muncul cuma batu, bukan monster."
Anak-anak langsung tertawa.
Destinasi terakhir sekaligus penutup seluruh perjalanan kami adalah Telaga Biru Cisoka.
Airnya yang berwarna kebiruan berpadu dengan bekas tebing galian menciptakan panorama yang cukup menarik.
Di sinilah kami benar-benar mengakhiri Tour Banten.
Kami duduk beberapa saat menikmati suasana sore.
Tidak banyak percakapan.

Mungkin karena masing-masing sedang mengingat kembali seluruh perjalanan selama empat hari terakhir.
Mulai dari menyusuri jejak Kesultanan Banten.
Menikmati curug, pantai, rawa, dan Ujung Kulon.
Mengenal kehidupan masyarakat Baduy.
Hingga akhirnya menutup perjalanan di Telaga Biru Cisoka.
Empat hari terasa begitu singkat.
Namun kenangan yang kami bawa pulang terasa begitu panjang.
https://www.youtube.com/watch?v=uXllYt7jfV0
Provinsi ini menyimpan sejarah besar, kekayaan budaya, alam yang indah, serta masyarakat yang ramah.
Masih banyak tempat yang belum sempat kami datangi.
Masih banyak cerita yang belum sempat kami tuliskan.
Dan mungkin...
Itulah alasan mengapa seorang pecinta perjalanan akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
Terima kasih, Banten.
Terima kasih atas setiap jalan yang kami lewati.
Setiap tempat yang kami singgahi.
Setiap tawa yang kami bagi bersama keluarga.
Sampai bertemu kembali dalam perjalanan berikutnya.
Karena bagi kami...
Indonesia bukan hanya untuk dikunjungi, tetapi untuk dikenal, dicintai, dan diceritakan kepada sebanyak mungkin orang.