Video Pilihan

Diremehkan karena Usia, Berakhir Makan Liwet Gratis Bersama Pemilik Gunung Ciung

18 Juli 2026   05:26 Diperbarui: 18 Juli 2026   05:26 374 34 23


Siapa bilang usia mendekati kepala enam cuma bisa berdiam diri di rumah? Beberapa tahun lalu, saat Gunung Ciung di Sentul baru sekitar dua bulan beroperasi, saya dan istri nekat menyambanginya. Waktu itu lokasinya masih sangat sepi, belum seramai sekarang. Jangan bayangkan ada loket megah; pendaftaran HTM saja masih dilayani di atas meja kayu darurat, bahkan peta jalur pendakian pun belum tersedia.

Mengingat semalam suntuk diguyur hujan lebat, petugas di pos bawah berkali-kali memandangi kami dengan tatapan ragu. "Bapak, Ibu... apa yakin mau mendaki? Jalurnya licin sekali. Ketinggian yang baru kami buka ini di 800 MDPL," tanyanya dengan nada khawatir, mungkin cemas melihat fisik kami yang sudah tidak muda lagi.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sambil meminta izin untuk meliput kawasan tersebut demi kanal YouTube kami, saya tidak menjawab keraguannya dengan kata-kata. Cukup saya sodorkan layar ponsel dan memperlihatkan rekam jejak digital kami. Begitu melihat video petualangan kami bersahabat dengan Gunung Ijen, Gede Pangrango, hingga Gunung Salak, mata si petugas langsung berbinar. "Oh... ternyata memang sudah bersahabat dengan gunung ya," selorohnya sambil tertawa geli, langsung percaya kalau kami ini "lansia berjiwa muda". Karena niat awal hanya ingin bertanya-tanya dan tidak membawa trekking pole, kami akhirnya dipinjami dua buah tongkat bambu rakitan sederhana oleh petugas.

Dengan mengucap bismillah, petualangan pun dimulai. Di tengah jalur yang lumayan menantang karena minimnya rambu dan pengaman, kami melihat petunjuk arah menuju sebuah curug (air terjun). Tanpa pikir panjang, kami melipir sejenak untuk berfoto dan mengambil video. Setelah puas menikmati kesegaran air terjun, kami kembali berjuang menembus jalur tanah yang super licin akibat hujan semalam.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sesampainya di puncak 800 MDPL, sebuah kejutan besar sudah menanti. Kami disambut langsung oleh pemilik destinasi tersebut, yang ternyata merupakan seorang pimpinan pesantren di kaki gunung. Beliau menjelaskan bahwa sebagian uang HTM wisatawan dialokasikan untuk operasional pesantren dan biaya para santri. Sungguh sebuah konsep wisata yang mulia.

"Bapak, Ibu, tadi saya ditelepon oleh petugas di bawah. Katanya ada sepasang suami istri senior yang mau naik. Tadinya saya mau turun, tapi begitu tahu treknya licin, saya sengaja menunggu di sini. Bahkan saya sengaja membuatkan nasi liwet untuk kita makan bareng!" ujar beliau dengan ramah. Sungguh sebuah surprise yang membuat rasa lelah kami langsung menguap seketika.

Sambil menunggu nasi liwet matang, kami diajak melihat tiga orang tukang yang sedang membangun fasilitas MCK, lalu beliau meminta salah satu dari mereka untuk mendirikan tenda di area camping. Begitu tenda berdiri, mata kami dimanjakan oleh lanskap alam yang luar biasa asyik. Beliau bahkan menunjuk ke sebuah area di kejauhan, "Nah, itu rumah dan kandang sapi milik Pak Prabowo (waktu itu beliau belum menjadi Presiden)."

Momen langka ini tidak kami sia-siakan. Saya meminta beliau untuk masuk ke dalam konten YouTube kami demi membantu memasarkan destinasi baru ini. Wawancara pun mengalir seru dengan istri saya sebagai host-nya, berlatar belakang tenda dan jurang indah di ketinggian 800 MDPL. Puncaknya, kami makan siang bersama di saung. Uniknya, semua tanaman hijau yang tumbuh di pinggir saung adalah lalapan segar yang bisa langsung dipetik dan disantap!

"Koleksi: Misbah Moerad"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2