Setelah kenyang, kami disuguhi kopi hangat. Saat saya mengeluarkan dompet dan bertanya berapa total biaya makan siang mewah ini, beliau tersenyum hangat dan menolak, "Saya memang berniat ikhlas memasakkan untuk Bapak dan Ibu hari ini. Entah kenapa, biasanya saya tidak begini." Kami bahkan diberi nomor ponsel pribadi beliau dan dipersilakan menginap gratis kapan saja kami mau kembali.
Saat perjalanan turun dan tiba di base camp, petugas bawah yang tadi meragukan kami langsung menyergap dengan pertanyaan penasaran, "Wah, Bapak dan Ibu beneran sampai ke atas? Jalurnya kan licin banget!"
Lagi-lagi, tanpa banyak bicara, saya hanya menyodorkan HP yang berisi dokumentasi foto dan video kami saat bercengkerama di puncak. Mereka pun tertawa renyah sambil berdecak kagum, "Hebat, Bapak dan Ibu! Usia segini tapi tenaganya masih luar biasa enerjik!" Perjalanan hari itu membuktikan bahwa usia hanyalah deretan angka, namun semangat bertualang dan silaturahmi adalah hal yang abadi.