"Kalau naik kendaraan cuma 15 menit... tapi jangan salah, itu 15 menit pakai motor atau mobil lho, bukan pakai lutut... he... he... he..."
Fathan Alesano merupakan salah satu cafe yang berada di lereng Gunung Salak. Letaknya tidak terlalu jauh dari saung kami. Kalau menggunakan kendaraan, waktu tempuhnya hanya sekitar lima belas menit saja. Cepat sekali.
Tapi... nanti dulu.
Kalau menggunakan LUTUT, alias berjalan kaki atau trekking, ceritanya jadi lain. He... he... he...
Melalui jalur yang sudah memiliki badan jalan, perjalanan bisa memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Nah, kalau nekat memilih jalur setapak yang benar-benar masih alami, ya siap-siap saja, bisa sampai empat jam perjalanan.
Eits... itu hitungan saya dan istri ya. Maklum, usia sudah tidak semuda dulu. Langkah kaki sekarang lebih santai, lebih banyak berhenti menikmati pemandangan dibanding mengejar waktu.
Kalau yang masih muda, fisiknya prima dan memang hobi trekking, saya yakin dari saung kami menuju Fathan Alesano paling lama hanya sekitar satu jam saja.

Justru perjalanan menuju cafe inilah yang menjadi daya tarik tersendiri.
Sepanjang jalur kita akan disuguhi hamparan pepohonan hijau yang menyejukkan mata. Udaranya benar-benar segar. Angin pegunungan berembus lembut membawa hawa dingin yang membuat napas terasa lebih lega.
Yang paling saya suka adalah suasananya yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Tidak ada asap kendaraan, tidak ada kemacetan, dan tentu saja... bebas polusi. Yang terdengar hanya suara burung, gemerisik dedaunan, serta sesekali suara air dari aliran sungai kecil yang menambah syahdunya perjalanan.
Rasanya seperti sedang mengisi ulang energi setelah sekian lama disibukkan dengan berbagai aktivitas.
Sesampainya di Fathan Alesano, rasa lelah selama perjalanan seakan langsung terbayar lunas.
Pemandangan dari cafe ini benar-benar memanjakan mata. Hamparan perbukitan hijau berpadu dengan siluet Gunung Salak menjadi panorama yang sulit dilupakan.

Kalau datang pada pagi hari, kita akan disambut kabut tipis yang perlahan turun menyelimuti kawasan caf. Semakin siang kabut akan menghilang, berganti dengan udara pegunungan yang tetap sejuk.
Begitu juga saat sore menjelang. Kabut mulai datang kembali sedikit demi sedikit, dari yang tipis hingga semakin tebal, menciptakan suasana yang romantis sekaligus menenangkan. Momen seperti inilah yang membuat banyak pengunjung betah berlama-lama menikmati secangkir kopi hangat.
Soal makanan dan minuman?
Menurut saya, cukup memuaskan. Menikmati secangkir kopi atau minuman hangat ditemani udara pegunungan memang punya sensasi yang berbeda. Rasanya lebih nikmat, apalagi jika dinikmati bersama keluarga atau sahabat sambil mengobrol santai.
Yang menarik lagi, di kawasan caf ini juga terdapat beberapa hewan yang dipelihara. Kehadiran mereka menjadi hiburan tersendiri, terutama bagi anak-anak yang datang bersama keluarganya.
Bagi Anda yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa harus mendaki Gunung Salak, Fathan Alesano bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dikunjungi.

Kalau saya boleh memberi saran, datanglah pada pagi atau sore hari. Selain udaranya lebih sejuk, Anda juga bisa menikmati permainan kabut yang perlahan turun, menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kadang, kebahagiaan itu sederhana. Duduk santai, menikmati secangkir kopi, memandang hijaunya alam, menghirup udara yang bersih, lalu bersyukur masih diberi kesempatan menikmati ciptaan-Nya.
Selamat menikmati keindahan lereng Gunung Salak... siapa tahu, setelah sekali datang, Anda justru ingin kembali lagi.