Istri langsung tertawa.
"Bukan kameranya yang capek, Papanya yang nanti sibuk motoin Mama terus."
Nah... itu memang kenyataannya.
Kalau jalan berdua, saya memang lebih sering menjadi fotografer pribadi daripada objek foto.

Sambil duduk menikmati suasana, saya memperhatikan para pengunjung yang baru kembali dari trekking. Wajah mereka tampak lelah, tetapi senyum mereka seolah mengatakan bahwa perjalanan yang baru mereka lakukan benar-benar sepadan dengan keindahan alam yang mereka temui.
Saya jadi berpikir, lain kali sepertinya kami harus mencoba salah satu paket trekking tersebut. Siapa tahu bisa menemukan sudut-sudut Gunung Menir yang belum pernah kami lihat sebelumnya.
Waktu terus berjalan.
Kami saling berpandangan.
"Lanjut ke Gunung Menir, Pa?"
"Tentu... kan tujuan awal memang ke sana."