
Ternyata lokasi situs ini berada di tengah permukiman padat Kampung Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Siapa sangka, di balik gang-gang kecil itu tersimpan jejak sejarah yang usianya sudah ratusan tahun.
Situs Taman Sri Baginda Jalatunda berupa sebuah sumur tua yang dipercaya sebagai salah satu mata air suci peninggalan Kerajaan Pajajaran. Tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Sunda kuno yang hingga kini masih dijaga keberadaannya.
Kampung Sindang Barang sendiri dipercaya telah ada sejak abad ke-12. Dalam Babad Padjajaran maupun pantun Bogor disebutkan bahwa kawasan ini merupakan kerajaan bawahan Prabu Siliwangi dengan ibu kota bernama Kutabarang. Bahkan dipercaya pula sebagai tempat tinggal salah satu istri Prabu Siliwangi, yaitu Dewi Kentring Manik Mayang Sunda.
Kami pun berjalan menuju sumur yang berada di Gang Jambekuina. Suasananya teduh dan tenang. Sulit membayangkan bahwa di balik padatnya permukiman warga masih tersimpan peninggalan sejarah yang begitu penting.

Menurut penuturan Abah Encem Masta, juru kunci yang telah lama menjaga situs ini, sebelum Islam berkembang di tanah Sunda dan masyarakat masih memegang kepercayaan Sunda Wiwitan, tempat ini sering dijadikan lokasi semedi.
Air dari sumur tersebut dahulu digunakan dalam berbagai ritual kasepuhan. Hingga sekarang pun masih banyak orang yang datang dari berbagai daerah seperti Kuningan, Cirebon, Banten, Sukabumi, Labuhan, bahkan tentu saja dari Bogor sendiri, untuk mengambil air dari sumur tersebut.
Bagi masyarakat adat Kampung Sindang Barang, Sumur Jalatunda dipercaya sebagai salah satu dari tujuh mata air suci yang berada di kawasan Kampung Budaya Sindang Barang. Sebagian masyarakat juga meyakini airnya memiliki nilai spiritual dan sering digunakan sebagai media pengobatan tradisional.
Kami tentu datang sebagai pengunjung yang ingin mengenal sejarah dan budaya. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa masih ada masyarakat yang menjaga warisan leluhur dengan penuh rasa hormat.
