Video Pilihan

Niat Bikin Kaos, Malah Ketemu Situs Kerajaan Pajajaran

9 Agustus 2026   05:30 Diperbarui: 9 Agustus 2026   05:30 272 11 9


Ada pepatah yang bilang, "Jangan terlalu yakin dengan rencana." Hari itu kami benar-benar merasakannya.

Awalnya sederhana saja. Kami berdua berangkat dari SAUNG APA untuk memesan kaos bertuliskan nama saung kesayangan kami. Saung kecil yang baru kami tempati sekitar dua bulan lebih enam hari, tetapi rasanya sudah seperti rumah yang kami impikan sejak lama untuk menikmati masa tua.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Alhamdulillah, kehidupan di saung mulai menunjukkan hasil. Cabai sudah tidak perlu beli, tomat tinggal petik, serai selalu tersedia di kebun, jeruk nipis hampir setiap hari bisa dipanen. Pisang dan singkong pun siap kapan saja kalau ingin digoreng atau direbus. Sebentar lagi kami juga akan menikmati buah nangka, sirsak, alpukat, dan belimbing wuluh yang sepertinya tidak pernah bosan berbuah. Tinggal pohon pala yang masih harus sabar menunggu sekitar tiga bulan lagi. Kalau durian? Wah... itu mah masih pelit. Belum ada tanda-tanda mau berbaik hati memberikan buahnya.

Karena tujuan kami hanya memesan kaos, kami sengaja memilih jalan pintas. Bukan apa-apa, kami sudah hafal betul bagaimana macetnya Kota Bogor. Daripada emosi di jalan, lebih baik mencari rute yang sedikit berliku tetapi lebih tenang.

Eh... justru di situlah kejutan dimulai.

Di tengah perjalanan, mata kami tertuju pada sebuah papan sederhana bertuliskan "Situs Taman Sri Baginda Jalatunda."

Spontan kami saling pandang.

"Masuk nggak?"

Jawabannya tentu saja masuk. Mana mungkin ada papan bertuliskan situs sejarah, kami malah pura-pura tidak melihat.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Ternyata lokasi situs ini berada di tengah permukiman padat Kampung Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Siapa sangka, di balik gang-gang kecil itu tersimpan jejak sejarah yang usianya sudah ratusan tahun.

Situs Taman Sri Baginda Jalatunda berupa sebuah sumur tua yang dipercaya sebagai salah satu mata air suci peninggalan Kerajaan Pajajaran. Tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Sunda kuno yang hingga kini masih dijaga keberadaannya.

Kampung Sindang Barang sendiri dipercaya telah ada sejak abad ke-12. Dalam Babad Padjajaran maupun pantun Bogor disebutkan bahwa kawasan ini merupakan kerajaan bawahan Prabu Siliwangi dengan ibu kota bernama Kutabarang. Bahkan dipercaya pula sebagai tempat tinggal salah satu istri Prabu Siliwangi, yaitu Dewi Kentring Manik Mayang Sunda.

Kami pun berjalan menuju sumur yang berada di Gang Jambekuina. Suasananya teduh dan tenang. Sulit membayangkan bahwa di balik padatnya permukiman warga masih tersimpan peninggalan sejarah yang begitu penting.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Menurut penuturan Abah Encem Masta, juru kunci yang telah lama menjaga situs ini, sebelum Islam berkembang di tanah Sunda dan masyarakat masih memegang kepercayaan Sunda Wiwitan, tempat ini sering dijadikan lokasi semedi.

Air dari sumur tersebut dahulu digunakan dalam berbagai ritual kasepuhan. Hingga sekarang pun masih banyak orang yang datang dari berbagai daerah seperti Kuningan, Cirebon, Banten, Sukabumi, Labuhan, bahkan tentu saja dari Bogor sendiri, untuk mengambil air dari sumur tersebut.

Bagi masyarakat adat Kampung Sindang Barang, Sumur Jalatunda dipercaya sebagai salah satu dari tujuh mata air suci yang berada di kawasan Kampung Budaya Sindang Barang. Sebagian masyarakat juga meyakini airnya memiliki nilai spiritual dan sering digunakan sebagai media pengobatan tradisional.

Kami tentu datang sebagai pengunjung yang ingin mengenal sejarah dan budaya. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa masih ada masyarakat yang menjaga warisan leluhur dengan penuh rasa hormat.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Perjalanan hari itu benar-benar mengajarkan satu hal. Kadang tujuan utama bukanlah bagian yang paling berkesan. Kami berangkat hanya untuk membuat kaos SAUNG APA, tetapi justru pulang membawa pengalaman baru, mengenal salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Pajajaran yang selama ini tidak pernah kami ketahui.

Begitulah indahnya perjalanan. Kalau kita mau sedikit keluar dari jalur utama, bukan hanya kemacetan yang berhasil dihindari, tetapi sering kali kita juga menemukan cerita yang jauh lebih berharga daripada tujuan awal perjalanan itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3