Video Pilihan

Kabut Subuh Pamijahan dan Obrolan Hangat di Surau Tua

21 Agustus 2026   05:36 Diperbarui: 21 Agustus 2026   05:36 134 5 7


Pagi yang Dingin dan Panggilan Suci

Ketenangan malam di kaki gunung pecah saat suara azan Subuh sayup-sayup terdengar masuk ke dalam kamar kami. Suaranya terdengar dekat. Saya berbisik kepada istri, "Sepertinya surau tidak terlalu jauh dari sini."

Saya segera bersiap untuk menunaikan salat berjamaah. Niat hati ingin mandi untuk menyegarkan badan, namun urung karena air pegunungan pagi itu terasa seperti es-sangat dingin sekali! Saat kami membuka jendela kamar, pemandangan luar biasa menyambut kami. Kabut tebal menyelimuti seluruh area luar guest house. Jarak pandang sangat terbatas, hanya sekitar 10 meter saja.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Suasana Surau dan Realita Generasi Muda

Dengan langkah menembus kabut, saya berjalan mencari sumber suara azan. Benar saja, sekitar 150 meter dari tempat kami menginap, berdiri sebuah surau sederhana.

Saat memasuki surau, ada pemandangan yang menggelitik hati saya. Jamaah yang hadir subuh itu mayoritas adalah orang-orang yang sudah tua. Remaja dan anak-anak yang ikut salat berjamaah bisa dihitung dengan jari tangan. Sehabis salat dan zikir, saya duduk sejenak mengamati sekeliling. Bangunan surau ini tampak sedikit kurang terpelihara. Namun, sepertinya warga sedang berbenah; terlihat ada tangga kayu dan material bangunan di bagian depan surau, menandakan adanya proses renovasi yang sedang berjalan.

Pertemuan Tak Terduga dan Strategi Rute Baru

Di surau inilah takdir mempertemukan saya dengan salah satu pengelola destinasi wisata setempat. Komunikasi mengalir dengan sangat hangat. Beliau memperkenalkan diri dengan ramah, lalu bercerita banyak tentang apa saja yang telah mereka lakukan untuk mengelola wisata di kawasan Ciasmara ini.

Beliau sempat bertanya di mana kami menginap dan apa rencana perjalanan kami hari ini. Setelah saya ceritakan rute awal kami, beliau memberikan sebuah saran lokal yang sangat berharga:
"Sebaiknya ke Curug Ciparay dulu baru ke Curug Mas, jalurnya lebih searah dan efisien," saran beliau.

Sebagai pelancong yang menghormati saran warga lokal, kami memutuskan untuk mengikuti rekomendasi tersebut. Saya pun kembali ke guest house dengan hati yang hangat, siap menyantap sarapan pagi bersama istri sebelum memulai petualangan hari kedua menembus kabut Pamijahan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Menuju Curug Ciparay: Canda Tawa di Bawah Langit Mendung

Setelah menyelesaikan sarapan dan bersiap, kami langsung tancap gas mengikuti saran dari pengelola destinasi yang kami temui di surau tadi. Tujuan pertama kami di pagi hari kedua ini adalah Curug Ciparay.

Langit pagi itu tampak abu-abu bergayut mendung, namun untungnya hujan tidak kunjung turun. Cuaca seperti ini justru menjadi berkah tersendiri; udara terasa sangat sejuk dan matahari yang bersembunyi membuat perjalanan terasa teduh. Sepanjang jalur trekking menuju curug, perjalanan terasa sangat mengasyikkan. Kami berjalan santai sambil terus bercanda dan mengobrol berdua. Karena suasana yang seru dan penuh tawa, langkah kaki kami terasa ringan, tahu-tahu kami sudah sampai di lokasi curug.

Keindahan Singkat yang Menenangkan

Curug Ciparay menyambut kami dengan pesona alaminya yang memukau. Meskipun cuaca mendung, derasnya tumpahan air terjun tetap terlihat sangat megah di kelilingi tebing hijau yang asri. Karena kami mengejar waktu untuk rute berikutnya, kami tidak berlama-lama di sini. Kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit saja untuk menikmati kesegaran air, mengagumi pemandangan, dan tentu saja mengabadikan momen berdua melalui foto. Puas menikmati keindahan singkat namun berkesan di Curug Ciparay, kami segera melangkah kembali menuju guest house untuk bersiap-siap ke destinasi selanjutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2