Video Pilihan

Kupu-Kupu Penjaga Bangkai Sukhoi: Misteri Jalur Cidahu yang Tak Terlihat

22 Agustus 2026   05:31 Diperbarui: 22 Agustus 2026   05:31 156 10 5


Kawasan Cidahu di Gunung Salak menyimpan memori kelam atas tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 beberapa tahun silam. Jalur ini terkenal ekstrem, rimbun, dan penuh misteri. Didorong rasa penasaran, saya dan istri memutuskan melakukan trekking ke jalur tersebut untuk melihat sisa-sisa situs sejarah itu. Namun, perjalanan kali ini kembali mempertemukan kami dengan "pemandu" tak kasat mata yang menjaga keselamatan kami.

"Koleksi: Misbah Moerad"

"Pah, Lihat Kupu-Kupu Itu, Seperti Kucing di Cipeuteuy..."

Setelah satu jam berjalan menyusuri semak belukar dan jalan setapak yang sunyi, kami memutuskan beristirahat di atas bebatuan untuk melepas lelah. Di tengah kesunyian hutan Cidahu, istri saya tiba-tiba berbisik, "Pah, lihat kupu-kupu itu. Kok rasanya seperti kucing saat kita ke Cipeuteuy dulu ya?"

Saya menoleh ke arah yang ditunjuk istri. Di sana, hinggap seekor kupu-kupu berwarna gelap yang sangat tenang. Mengingat pengalaman manis kami dikawal kucing di Curug Cipeuteuy, insting kami langsung bergerak untuk melakukan pengujian yang sama.

Kami kembali berdiri dan berjalan pelan. Benar saja! Begitu kami melangkah, kupu-kupu itu terbang rendah di depan kami. Saat kami sengaja berhenti, ia ikut hinggap dan menunggu. Pola ini terus berulang. Makhluk kecil bersayap gelap itu seolah menjadi penunjuk arah di tengah vegetasi Cidahu yang semakin rapat dan membingungkan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Terjebak Longsoran di Anak Sungai

Dua jam perjalanan berlalu, jalur trekking memaksa kami untuk menyusuri area anak sungai yang dipenuhi bebatuan besar. Suasana di sini sangat redup karena kanopi pepohonan yang menutup rapat di atasnya.

Tiba-tiba, langkah kami benar-benar terhenti. Di depan kami, jalur setapak yang seharusnya ada telah hilang tertutup material tanah dan pohon tumbang. Rupanya, telah terjadi longsoran besar beberapa hari sebelum kedatangan kami.

Medan menjadi sangat berbahaya dan sulit dilewati. Jika ingin memaksakan terus menuju titik Sukhoi, kami harus membuka jalur baru menembus hutan perawan. Masalahnya, kami tidak membawa perlengkapan menebas hutan (machete/parang), dan waktu sudah beranjak sore. Udara gunung mulai mendingin dan kabut perlahan turun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2