Video Pilihan

Ciasmara Diantara Misteri Pancuran Tujuh dan Curug Mas

23 Agustus 2026   05:22 Diperbarui: 23 Agustus 2026   05:22 294 14 10


Perjalanan saya dan istri semakin kaya dengan kearifan lokal, humor, dan realita di lapangan. Pertemuan dengan ketua paguyuban wisata memberikan sudut pandang budaya yang sangat menarik untuk artikel ini.

Curug Mas dan Pancuran Tujuh adalah sisi Lain Ciasmara: Misteri Pancuran Tujuh dan Ramah Tamah Ketua Paguyuban Kembali ke guest house, kami tidak langsung berkemas. Kami memilih melepas lelah sejenak di area bale sambil menunggu janji temu dengan ketua paguyuban wisata yang saya temui di surau subuh tadi.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Tepat waktu, beliau datang menemui kami dengan perlengkapan yang sudah siap. Matahari berganti gerimis tipis saat kami bertiga-saya, istri, dan pak ketua-memulai langkah menuju Curug Mas. Kabut tebal kembali turun, menyelimuti jalur trekking dengan embunnya yang pekat. Karena gerimis masih bersahabat, kami memilih belum mengenakan jas hujan. Di tengah jalan, kami kembali melewati surau tempat saya salat subuh. "Nah, ini surau yang tadi pagi saya datangi," bisik saya ke istri.

Sebelum sampai di curug utama, pak ketua mengajak kami berbelok sedikit ke area Pancuran Tujuh. Di sinilah beliau berbagi cerita unik yang cukup mengejutkan. Menurutnya, banyak pelancong dari Jakarta, Tangerang, hingga luar daerah yang sengaja datang ke sini demi ritual mandi malam tepat jam 12 malam. Mendengar itu, saya dan istri hanya saling lirik sambil tersenyum. Wah, kalau yang ini jelas bukan jalur kami! Kami datang sebagai penikmat keindahan alam, bukan pencari ritual mistis. Meski begitu, kami tetap menghormati tempat tersebut dengan masuk ke area Sumur Tujuh untuk mengambil air wudhu yang terasa sangat menyegarkan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Tawa di Balik Jas Hujan dan Realita di Curug Mas

Perjalanan dilanjutkan. Sesuai prediksi, gerimis yang tadinya malu-malu berubah menjadi deras. Kami pun terpaksa berhenti sejenak untuk memakai jas hujan plastik kami. Meski jalur semakin basah dan menantang, suasana justru semakin seru. Sepanjang jalan dipenuhi dengan guyonan segar antara kami dan pak ketua paguyuban. Canda tawa itulah yang menjadi bahan bakar kami menembus dinginnya hujan Pamijahan hingga akhirnya langkah kami tiba di Curug Mas.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Sayangnya, alam memiliki dinamikanya sendiri. Karena hujan deras sudah mengguyur area atas gunung sejak malam, air di Curug Mas yang mengalir siang itu terlihat agak keruh dan kotor. Selain faktor alam, kawasan sekitar curug juga rupanya sedang dalam tahap renovasi besar-besaran oleh pengelola. Meski tidak bisa menikmati air yang jernih, pengalaman trekking bersama tokoh lokal dan keseruan menembus hujan tetap memberikan kepuasan batin yang luar biasa bagi kami berdua.

Sampai bertemu di petualangan kami selanjutnya.