Video Pilihan

Curug Cikuluwung: Dulu Saya Turun Sendiri, Kali Ini Semoga Berdua

18 September 2026   07:05 Diperbarui: 18 September 2026   07:05 290 3 2


Sudah lebih dari satu tahun kami tidak datang ke tempat ini.

Hari Sabtu besok, entah kenapa hati kembali mengajak kami ke sebuah curug yang pernah meninggalkan cerita tersendiri dalam perjalanan kami berdua.

Namanya Curug Cikuluwung.

Sebelum berangkat hari Sabtu besok, kami membuka kembali dokumen dan foto-foto lama perjalanan kami ke sini. Maklum, kalau sudah usia begini, sebelum pergi bukan cuma Google Maps yang dibuka... foto lama juga ikut dibuka. Hehehe.

Dari foto-foto itu, kenangan perjalanan kami ke Curug Cikuluwung kembali muncul.

Waktu itu kami datang ke Curug Cikuluwung 1.

Untuk menuju curugnya, ada bagian yang cukup menantang. Jalan turun licin dan untuk naik-turunnya kami harus menggunakan tali.

Saya sih santai saja.

Istri saya?

Nah... ini yang ceritanya agak panjang.

Sebenarnya waktu itu istri saya sudah mencoba untuk turun.

Tangannya memegang tali erat-erat.

Satu langkah...

Slep!

Pegangan tali semakin erat.

Coba lagi...

Slep!

Kali ini mungkin dalam hati dia sudah mulai bertanya:

"Ini mau menikmati curug atau mau latihan panjat tebing?"

Saya yang sudah lebih dulu turun tentu saja menunggu dari bawah.

Sementara istri masih berjuang dengan medan licin di atas.

Beberapa kali mencoba turun, beberapa kali pula terpeleset.

Tali semakin dipeluk.

Bukan lagi sekadar dipegang, tapi seperti sedang memegang benda pusaka keluarga. Hehehe.

Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, istri saya menyerah.

"Papa saja yang turun."

Saya pun turun menikmati Curug Cikuluwung, sementara istri memilih menikmati suasana dari atas.

Dan tentu saja...

kopi.

Ya, kalau tidak bisa menikmati curug dari bawah, menikmati kopi dari atas juga bukan pilihan yang buruk.

Saya menikmati kesegaran curugnya, sementara istri menikmati kopi dan pemandangan dari warung.

Sama-sama menikmati.

Hanya beda tempat saja.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Nah, justru karena waktu itu kami baru sampai di Cikuluwung 1, akhirnya muncul rasa penasaran.

Bagaimana dengan Cikuluwung 2?

Selama ini kami belum pernah ke sana.

Itulah salah satu alasan kenapa akhir bulan September ini kami merencanakan untuk kembali.

Ada rasa penasaran yang belum selesai.

Katanya, di Cikuluwung 2 ada pengalaman yang berbeda. Bahkan untuk menikmati kawasan curugnya bisa menggunakan perahu.

Nah, kalau benar begitu, sepertinya ini lebih cocok untuk kami.

Tidak perlu lagi drama turun menggunakan tali.

Tidak perlu lagi adegan:

"Pegang talinya, Mah!"

"Sudah!"

"Turun pelan-pelan!"

"Sleeeep!"

Saya sendiri juga belum mempunyai gambaran seperti apa sebenarnya Curug Cikuluwung 2 itu.

Justru itu yang membuat perjalanan kali ini terasa menarik.

Ada tempat yang sudah kita tahu, ada juga tempat yang belum pernah kita datangi.

Dan ternyata, di usia sekarang, rasa penasaran seperti itu masih tetap ada.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Rencananya kami akan berangkat Sabtu besok, kalau tidak ada halangan.

Semoga cuaca bersahabat, perjalanan lancar, dan yang paling penting...

semoga istri saya bisa menikmati Cikuluwung 2 tanpa harus bernegosiasi lagi dengan tali. Hehehe.

Kalau nanti ternyata sampai di sana harus naik perahu, saya sudah membayangkan satu hal.

Saya duduk tenang.

Istri duduk di sebelah.

Perahu berjalan pelan.

Air jernih, tebing dan pepohonan di sekeliling.

Tidak perlu memanjat.

Tidak perlu terpeleset.

Tidak perlu memeluk tali sampai talinya mungkin merasa dicintai.

Dan mudah-mudahan kali ini saya bukan cuma bisa menikmati indahnya Curug Cikuluwung...

tetapi juga bisa melihat istri tersenyum menikmati perjalanan yang sudah lebih dari satu tahun kami tinggalkan.

Karena pada akhirnya, tujuan kami datang ke tempat seperti ini bukan sekadar mencari curug yang indah.

Bukan juga sekadar mengejar foto.

Tetapi mencari kembali cerita-cerita kecil yang bisa kami bawa pulang.

Dulu di Cikuluwung 1, saya turun sendiri dan istri menunggu sambil ngopi.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Semoga kali ini di Cikuluwung 2 ceritanya berbeda.

Bukan saya lagi yang menikmati curug sendirian.

Semoga kali ini kami bisa menikmatinya berdua.

Dan kalau nanti istri bilang,

"Papa, ternyata enak ya di sini..."

Saya tinggal tersenyum.

Karena berarti perjuangan mencari tempat baru ini tidak sia-sia.

Dan tentu saja...

talinya boleh pensiun dulu....nantikan keseruan kami besok ya...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7