Alhasil, kulineran kami saat itu murni hanya ditemani oleh pesanan minuman hangat yang simpel.
Tapi justru di situlah letak keseruannya. Sambil menggenggam gelas minuman hangat di tengah udara Gunung Bunder yang mulai menggigit, candaan di antara kami berdua kembali mengalir.
Sambil melihat ke arah kolam curug yang sepi pengunjung, saya menyenggol istri dan berbisik, "Niatnya kan mau kulineran romantis ya, Mah? Tapi berhubung ini weekday dan warungnya pada 'ngumpet' beneran ngikutin nama curugnya, ya sudahlah ya... yang penting kan cintanya kita enggak ikut-ikutan ngumpet!" Istri saya langsung tertawa renyah mendengar gombalan tipis bin receh itu.
Gelas minuman hangat di tangan dan tawa renyah istri rasanya sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan momen syahdu siang itu.

Bagi kompasianer dan pasangan lain yang juga tertarik untuk berkunjung menikmati kesyahduan Curug Ngumpet 1, ada beberapa tips ringan yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman kemarin:
Perjalanan singkat ke Curug Ngumpet 1 ini mengingatkan kami bahwa keindahan dan kebahagiaan itu tidak melulu harus dicapai dengan rute yang jauh dan melelahkan. Kadang, surga tersembunyi itu jaraknya hanya 3 menit dari tempat kita memarkir kendaraan. Sebuah tempat sempurna untuk rehat sejenak, menyeruput minuman hangat, dan merayakan kebersamaan yang penuh tawa.