pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Negeri Kehilangan Tempat Pulang

30 September 2026   10:05 Diperbarui: 30 September 2026   10:05 73 0 0


Negeri Kehilangan Tempat Pulang

Negeri ini dulu bernapas dari hutan,
dari akar yang memeluk tanah diam-diam,
dari sungai yang menghafal nyanyian hujan.
Kini pohon tumbang atas nama kemajuan,
dan bukit-bukit dijual seperti barang obral,
sementara kita bertepuk tangan pada kehancuran.

Ketika banjir turun dari luka pegunungan,
orang-orang menunjuk langit sebagai tersangka.
Hujan diadili tanpa pengacara,
awan dicerca seolah penjahat utama.
Padahal kapak bukan milik hujan,
dan izin pembabatan tak pernah ditandatangani petir.

Air bah datang membawa tagihan panjang,
dari hulu yang bertahun-tahun disakiti.
Sawah berubah kuburan benih,
sekolah menjadi kolam kesedihan,
rumah-rumah tinggal angka statistik,
dan desa kehilangan alamatnya sendiri.

Di ruang rapat yang sejuk oleh pendingin udara,
mereka menghitung korban dengan rumus anggaran.
Keselamatan dipotong seperti pos belanja,
sementara bencana tumbuh tanpa pemangkasan.
Aneh, nyawa manusia makin murah,
ketika proyek-proyek makin mahal nilainya.

Astacita dibacakan seperti syair kebangsaan,
namun lumpur lebih cepat tiba daripada janji.
Apa arti pangan jika ladang tenggelam?
Apa arti desa jika warga terus mengungsi?
Apa arti harmoni dengan alam,
jika alam hanya diingat saat pidato resmi?

Hutan-hutan hilang sejuta hektar lebih,
tetapi laporan selalu menemukan alasan indah.
Sungai disempitkan oleh keserakahan,
lereng dibuka dengan senyum investasi.
Kemudian kita terkejut melihat banjir,
seolah maut lahir tanpa sebab.

Sawit merambat seperti doa yang salah alamat,
menghijaukan angka, mengeringkan nurani.
Di atas peta tampak kemakmuran,
di bawahnya sungai kehilangan ruang bernapas.
Hujan hanyalah pelatuk kecil,
sedang pelurunya telah lama kita rakit sendiri.

Kini negeri ini masih berdiri,
tetapi rasa aman perlahan mengemasi barang-barangnya.
Korban menunggu rumah yang tak kunjung selesai,
sementara puing lebih cepat dihitung daripada dicegah.
Dan setiap musim hujan yang datang kembali,
Indonesia bertanya: masih adakah tempat yang aman untuk pulang?

Sumber: M Shabri Abd Majid "Negeriku yang Tak Lagi Aman Dihuni" dalam Kompas, Minggu, 7 Juni 2026, hlm. 6.