Video Pilihan

Niat Cuma Lihat-Lihat, Kok Malah Nyemplung?

4 Oktober 2026   14:43 Diperbarui: 4 Oktober 2026   14:43 208 7 3


A Day in My Life

Catatan dari Saung APA, 620 MDPL - Curug Aray, Sentul

Selamat pagi kompasianer...

Pagi itu niat kami sebenarnya sederhana.

Kami ingin menikmati Curug Aray di Sentul.

Tidak ada target harus berenang, tidak ada rencana mandi-mandi, apalagi mau bikin aksi macam-macam.

Pokoknya cuma ingin duduk santai.

Makan Indomie, gorengan, minum kopi, menikmati suara air, lalu sesekali saling pandang dan senyum dengan istri tercinta.

Maklum Om bro...

Kalau sudah usia begini, yang dicari bukan lagi petualangan yang bikin jantung copot.

Yang dicari adalah ketenangan.

Tapi ternyata...

Air curug punya pendapat lain.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sarapan Dulu, Om Bro

Sebelum menuju Curug Aray, kami mampir sarapan di depan Jungle Land.

Di pinggir jalan terlihat sebuah mobil Avanza yang diparkir rapi.

Di belakangnya ada meja dan kursi.

Ada banner yang langsung membuat perut saya ikut membaca:

"SEDIA PECEL MADIUN."

Waduh...

Kalau sudah ada tulisan begitu, motor otomatis mengurangi kecepatan.

Kami pun berhenti.

Sarapan nasi pecel Madiun ditemani teh tawar panas.

Sederhana.

Hangat.

Nikmat.

Perut kenyang, hati senang.

Baru setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Aray.

Jalan Kaki yang Bersahabat

Lokasi Curug Aray berada di kawasan Kp. Muhara, Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Dari gerbang tujuan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Jalurnya cukup mudah.

Tidak perlu sampai mengeluarkan jurus survival.

Anak-anak pun masih bisa menikmati perjalanan ini.

Sepanjang perjalanan, suasana alam membuat langkah terasa ringan.

Dan benar saja...

Begitu sampai di lokasi, fasilitasnya cukup lengkap.

Ada mushola, toilet, warung makan, bahkan tersedia area camping bagi yang ingin bermalam.

Jadi kalau mau datang pagi, main air, makan, ngopi, lalu camping...

Bisa.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Dua Kolam yang Menggoda

Di Leuwi Aray terdapat dua kolam dengan kedalaman berbeda.

Bagi yang membawa anak-anak, tentu harus tetap mengawasi mereka.

Saya sendiri awalnya hanya melihat-lihat.

Benar-benar cuma melihat.

Duduk.

Lihat air.

Lihat kolam.

Lihat istri.

Lihat air lagi.

Sampai akhirnya saya sadar...

Kok airnya bening dan menggoda sekali, ya?

Masalah pun dimulai.

Lima Ribu Rupiah yang Mengubah Rencana

Padahal saya tidak membawa pakaian ganti.

Tetapi rasa ingin nyemplung semakin kuat.

Akhirnya saya bertanya kepada pengelola:

"Pak, ada sewa celana buat mandi?"

Jawabannya:

Ada. Lima ribu rupiah.

Lima ribu!

Om bro...

Dengan harga segitu, rasanya dosa kalau cuma berdiri di pinggir kolam.

Akhirnya saya menyewa.

Dan...

BYURRR!

Masuklah saya ke air.

Rencana awal yang katanya cuma "lihat-lihat" resmi batal.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Nah, Di Sinilah Orang Mahakam Bicara

Begitu saya masuk air, istri langsung berubah profesi.

Dari istri tercinta menjadi:

fotografer pribadi.

"Loncat!"

"Coba nyelam!"

"Ke sana!"

"Renang!"

"Sekali lagi!"

Saya nurut saja.

Namanya juga suami.

Kalau istri sudah memegang kamera, kita tidak boleh banyak membantah.

Setelah beberapa kali difoto, saya kemudian bilang kepada istri:

"Kalau buat orang Kalimantan yang biasa mengarungi Sungai Mahakam, curug begini sih biasa saja..."

Istri saya mungkin dalam hati berkata:

"Iya... biasa saja. Tapi tadi yang tanya sewa celana siapa?"

Nah!

Di situ saya langsung sadar.

Jangan terlalu banyak bicara.

Karena ada bukti transaksi:

Celana mandi Rp5.000.

Sungai Mahakam dan Curug Aray

Tapi sebenarnya bukan soal berani atau tidak berani.

Saya memang punya kenangan dengan sungai.

Sebagai orang yang pernah akrab dengan Sungai Mahakam, bermain air, berenang, dan menikmati aliran sungai bukan sesuatu yang asing.

Dulu air yang saya lihat membentang luas.

Sekarang air yang saya nikmati jauh lebih kecil.

Dulu menyusuri sungai.

Sekarang menyusuri leuwi.

Dulu mungkin tidak terpikir soal pakaian ganti.

Sekarang?

Celana lima ribu pun jadi penyelamat.

Yang berubah memang tempatnya.

Tapi rasa senangnya tetap sama.

Bermain air.

Menikmati alam.

Dan yang paling penting...

ada istri yang berdiri di pinggir sambil sibuk memotret suaminya yang merasa masih muda.

Sarung Selalu Siap

Untungnya saya punya satu kebiasaan.

Ke mana-mana saya selalu membawa sarung dan pakaian dalam.

Bukan karena setiap perjalanan saya punya rencana mandi.

Tetapi karena saya selalu berpikir:

"Kalau nanti masuk waktu sholat, bagaimana?"

Nah, hari itu kebiasaan tersebut kembali terasa manfaatnya.

Celana mandi sewaan lima ribu sudah dipakai untuk berenang.

Sarung tetap tersimpan aman.

Jadi setelah puas bermain air, urusan ibadah tetap aman.

Hehehe...

Petualangan boleh basah, tapi sholat jangan sampai basah-basahan alasannya.

Niatnya Cuma Duduk Berdua

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya yang membuat perjalanan pagi itu menyenangkan bukan karena Curug Aray-nya saja.

Bukan karena saya berhasil berenang.

Bukan pula karena berhasil mendapatkan foto saat melompat.

Tetapi karena kami menikmatinya berdua.

Berangkat berdua.

Sarapan berdua.

Jalan kaki berdua.

Duduk berdua.

Saya nyemplung...

Istri memotret.

Saya berenang...

Istri tertawa.

Saya merasa masih muda...

Istri mungkin sedang menahan komentar.

Begitulah hidup.

Kadang kita berangkat dengan rencana sederhana.

Tapi di tengah perjalanan muncul kejutan kecil yang justru menjadi cerita.

Pulang Membawa Cerita

Pagi itu kami datang ke Curug Aray dengan niat:

"Cuma lihat-lihat."

Ternyata pulang membawa cerita:

sarapan pecel Madiun, teh tawar panas, jalan santai, dua kolam, celana sewaan lima ribu, fotografer pribadi, dan seorang lelaki yang masih merasa dirinya anak sungai Mahakam.

Bedanya cuma satu...

Kalau dulu mungkin saya nyemplung tanpa banyak berpikir.

Sekarang sebelum nyemplung harus memastikan:

ada celana sewaan, ada sarung, dan ada istri yang siap memotret.

Hehehe...

Itulah perjalanan kami.

Tidak perlu mewah.

Tidak perlu jauh.

Yang penting ada waktu untuk menikmati alam dan menikmati kebersamaan.

Karena pada akhirnya, mungkin bukan tempat yang akan paling kita ingat.

Tetapi siapa yang menemani kita di perjalanan.

Salam sehat dari kami.

Dari Saung APA, 620 MDPL.

Niat cuma lihat-lihat...
eh, pulangnya malah bawa bukti bahwa saya pernah nyemplung dengan modal lima ribu rupiah!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15