Kami sama-sama paham: kalau terus menunggu, bisa-bisa kami pulang hanya membawa kenangan tentang kopi susu dan pepes ikan mas, tanpa merasakan sensasi geyser dari dekat.

Akhirnya, Kami Mendapat Petunjuk dari Para Penguasa
Dengan penuh kesabaran, saya dan istri mulai mendekat secara perlahan.
Tidak perlu menyerobot. Tidak perlu berebut. Pokoknya, pendekatan diplomatis!
Eh, ternyata respons mereka justru di luar dugaan.
Bukannya diusir, kami malah diberi petunjuk tentang posisi yang nyaman untuk merasakan semburan uap panas.
"Di sini, Pak. Punggungnya menghadap ke sini, mukanya ke sana. Kalau di sana, mukanya yang diarahkan ke uapnya."
Wah, luar biasa!
Ternyata bukan hanya menguasai lokasi, emak-emak ini juga merangkap sebagai pemandu wisata tidak resmi. Ramah pula!
Saya dan istri pun mengikuti arahan tersebut. Perlahan-lahan, kami mulai menikmati sensasi hangat dari uap yang menyembur ke udara.