Video Pilihan

Menikmati Semburan Uap Panas Geyser Cisolok, Menunggu Giliran Para Penguasa

19 Oktober 2026   05:09 Diperbarui: 19 Oktober 2026   05:09 236 8 3


A Day in My Life

Menikmati Semburan Uap Panas Geyser Cisolok, Menunggu Giliran Para Penguasa Bumi

Selamat pagi, Kompasianer!

Beberapa waktu lalu, saya dan istri melakukan perjalanan menuju Sukabumi. Tujuan kami kali ini bukan sekadar jalan-jalan mencari udara segar atau berburu kuliner, melainkan ingin menyaksikan langsung salah satu fenomena alam yang cukup unik di Jawa Barat: Geyser Cisolok.

Penasaran juga rasanya melihat semburan air panas dan uap yang melesat ke udara dari perut bumi. Selama ini, kalau melihat air menyembur, biasanya kita membayangkan air mancur buatan manusia. Nah, kalau yang satu ini, alam sendiri yang menjadi arsiteknya. Tidak perlu pompa listrik, tidak perlu operator yang memencet tombol, apalagi tagihan listrik bulanan!

Cukup mengandalkan panas bumi dan sistem saluran di bawah tanah, alam sudah punya pertunjukan sendiri.

Bukan Sembarang Semburan Air Panas

Geyser Cisolok bukan sekadar tempat wisata untuk berfoto atau menikmati sensasi uap panas. Fenomena ini merupakan bukti adanya aktivitas panas bumi atau sistem hidrotermal di kawasan selatan Jawa Barat.

Secara sederhana, air yang berada di bawah permukaan bumi dipanaskan oleh batuan bersuhu tinggi. Dalam sistem yang memiliki kondisi geologi dan saluran tertentu, pemanasan serta peningkatan tekanan dapat membuat air panas dan uap menyembur ke permukaan.

Perlu diketahui, tidak semua mata air panas bisa menjadi geyser. Ada sistem geologi khusus yang memungkinkan terjadinya semburan. Jadi, jangan membayangkan setiap kali kita merebus air di dapur, panci kita berpotensi berubah menjadi Geyser Cisolok, ya, Om bro! Hehehe...

Di kawasan ini, kita juga bisa menjumpai endapan mineral berwarna putih yang dikenal sebagai travertine, yaitu endapan

"Koleksi: Misbah Moerad"
kalsium karbonat yang terbentuk dari air kaya mineral. Pada titik-titik tertentu, proses hidrotermal juga dapat berkaitan dengan endapan belerang.

Suhu air panas dan semburan di kawasan seperti ini bisa cukup tinggi. Karena itu, meskipun terlihat menarik dan mengundang rasa penasaran, pengunjung tetap harus memperhatikan batas aman dan mengikuti petunjuk pengelola.

Begitulah alam. Indah untuk dinikmati, menarik untuk dipelajari, tetapi tetap harus dihormati.

Ketika Para Penguasa Bumi Sedang Menikmati Geyser

Nah, sekarang kita tinggalkan sejenak urusan geologi dan kembali ke kisah perjalanan saya bersama istri.

Sesampainya di kawasan Geyser Cisolok, kami mendapati pemandangan yang cukup menarik.

Ternyata, rombongan makhluk terkuat di muka bumi sedang menguasai lokasi favorit untuk menikmati semburan uap panas!

Siapa mereka?

Emak-emak, Om bro! Hahaha...

Mereka sedang asyik menikmati sensasi uap panas yang menyembur dari bumi. Ada yang berdiri di titik tertentu, ada yang mengatur posisi tubuh, dan sepertinya mereka sudah paham betul di mana posisi paling nikmat untuk merasakan hangatnya semburan tersebut.

Saya dan istri tentu saja tidak berani mengganggu.

Maklum, kami ini pendatang. Belum punya pengalaman, belum tahu medan, dan belum mengantongi surat izin dari para penguasa lokasi. Salah-salah, bukannya menikmati geyser, malah mendapat semburan omelan!

Akhirnya, kami memilih strategi paling aman: mundur teratur, cari tempat duduk, lalu menikmati kopi susu dan pepes ikan mas.

Perut kenyang, kopi hangat, suasana menyenangkan. Sambil menunggu, kami menikmati hidangan yang tersedia.

Dalam pikiran saya, sebentar lagi rombongan emak-emak itu pasti selesai. Namanya juga menikmati semburan uap panas, masa iya sampai lupa waktu?

Ternyata saya salah besar!

Kopi susu sudah habis. Pepes ikan mas sudah masuk ke perut. Nasi pun sudah tidak bersisa.

Sementara itu, para penguasa bumi masih tetap bertahan di tempatnya.

Belum ada tanda-tanda akan beranjak.

Saya mulai curiga, jangan-jangan mereka sudah punya kartu anggota khusus pengunjung tetap Geyser Cisolok. Atau mungkin ada jadwal piket yang tidak kami ketahui.

Saya pun melirik istri.

Istri melirik saya.

Kami sama-sama paham: kalau terus menunggu, bisa-bisa kami pulang hanya membawa kenangan tentang kopi susu dan pepes ikan mas, tanpa merasakan sensasi geyser dari dekat.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Akhirnya, Kami Mendapat Petunjuk dari Para Penguasa

Dengan penuh kesabaran, saya dan istri mulai mendekat secara perlahan.

Tidak perlu menyerobot. Tidak perlu berebut. Pokoknya, pendekatan diplomatis!

Eh, ternyata respons mereka justru di luar dugaan.

Bukannya diusir, kami malah diberi petunjuk tentang posisi yang nyaman untuk merasakan semburan uap panas.

"Di sini, Pak. Punggungnya menghadap ke sini, mukanya ke sana. Kalau di sana, mukanya yang diarahkan ke uapnya."

Wah, luar biasa!

Ternyata bukan hanya menguasai lokasi, emak-emak ini juga merangkap sebagai pemandu wisata tidak resmi. Ramah pula!

Saya dan istri pun mengikuti arahan tersebut. Perlahan-lahan, kami mulai menikmati sensasi hangat dari uap yang menyembur ke udara.

Rasanya berbeda ketika hanya melihat dari kejauhan. Ada sensasi tersendiri saat menyaksikan langsung bagaimana panas bumi menghadirkan pertunjukan alam yang begitu unik.

Dan yang paling menyenangkan, kami akhirnya bisa ikut menikmati pengalaman yang sejak awal membuat kami penasaran.

Terima kasih, para penguasa bumi!

Hari itu saya belajar satu hal penting: dalam perjalanan, tidak semua hal harus didapatkan dengan tergesa-gesa. Kadang-kadang, kita hanya perlu bersabar, menikmati apa yang ada, lalu mendekat ketika waktunya tepat.

Meski, terus terang saja, kalau menunggu sampai nasi dan pepes ikan mas habis dulu, itu namanya bukan cuma bersabar. Itu sudah masuk kategori menunggu dengan modal perut kenyang! Hahaha...

"Koleksi Misbah Moerad"

Bumi yang Menyimpan Kekayaan

Di balik cerita ringan perjalanan kami, Geyser Cisolok menyimpan potensi geologi yang jauh lebih besar.

Kawasan ini memiliki batuan yang mengalami perubahan akibat proses hidrotermal. Proses semacam ini juga berkaitan dengan pembentukan mineralisasi emas dan perak dalam bentuk urat kuarsa.

Artinya, apa yang kita lihat sebagai semburan air panas bukan sekadar tontonan wisata. Ia merupakan bagian dari proses alam yang berlangsung dalam waktu sangat panjang, membentuk karakter batuan dan menyimpan kisah tentang dinamika bumi.

Indonesia memang dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Dari gunung, hutan, pantai, dan air terjun, hingga sumber panas bumi yang memperlihatkan betapa aktif dan dinamisnya planet tempat kita tinggal.

Potensi seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata, membuka peluang usaha masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian lokal.

Namun, semua itu membutuhkan pengelolaan yang bijaksana. Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas, lingkungan perlu dijaga, dan pemanfaatan sumber daya alam harus memperhatikan keberlanjutannya.

Jangan sampai kita hanya pandai menikmati keindahan alam, tetapi lupa merawatnya.

Menikmati Hari, Mensyukuri Warisan

Perjalanan ke Geyser Cisolok akhirnya memberi kami lebih dari sekadar pengalaman melihat semburan air panas.

Ada cerita tentang kesabaran, keramahan orang yang baru dikenal, kenikmatan sederhana dari secangkir kopi susu dan sepiring nasi dengan pepes ikan mas, serta kekaguman terhadap proses alam yang selama ini mungkin jarang kita pikirkan.

Bagi saya, perjalanan bersama istri seperti ini bukan soal seberapa jauh kami pergi atau berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi.

Yang penting, kami masih diberi kesempatan untuk berjalan bersama, melihat hal-hal baru, tertawa bersama, dan pulang membawa cerita.

Kadang-kadang, cerita paling berkesan justru lahir dari kejadian sederhana. Termasuk ketika dua orang wisatawan harus menunggu rombongan emak-emak menyelesaikan agenda mereka bersama semburan uap panas bumi!

Semoga kekayaan alam yang diwariskan Tuhan kepada bangsa Indonesia ini senantiasa terjaga. Semoga keberadaannya mampu menjadi daya tarik wisata, memperkuat perekonomian masyarakat, dan tetap lestari agar kelak bisa dinikmati oleh anak cucu kita.

Sebab alam bukan hanya milik kita hari ini. Ia juga titipan untuk generasi yang akan datang.

Salam sehat, salam bahagia, dan salam jalan-jalan, Om bro!

Jangan lupa, kalau berkunjung ke Geyser Cisolok, nikmati keindahannya, patuhi aturan keselamatan, dan hormati pengunjung lain.

Kalau bertemu rombongan emak-emak yang sedang menikmati semburan uap panas, jangan buru-buru mengajak mereka beranjak.

Pesan saya cuma satu: pesan kopi susu dulu, siapkan pepes ikan mas, lalu tunggu dengan sabar.

Siapa tahu, setelah kenyang, kita justru mendapatkan petunjuk posisi terbaik dari para penguasa bumi!

Hahaha...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7