Seseorang yang meluangkan waktu untuk menulis sekadar menuangkan hobi dengan harapan semoga bermanfaat.
Saat anak "membaca" buku bergambar dan mampu menceritakannya kembali, terjadi ledakan sirkuit saraf "sinapsis"di otak kirinya (pusat bahasa) dan otak kanannya (pusat imajinasi).
Penggunaan kata "tiba-tiba" menandakan anak sudah memahami konsep sebab-akibat dan struktur plot dasar. Kemampuannya menyangkal godaan ibunya menunjukkan logika analitis yang berjalan dengan baik. Sementara kalimat "nanti jatuh" adalah bukti kemampuan critical thinking (berpikir kritis) tingkat tinggi untuk menyelaraskan fiksi dengan realitas keselamatannya sendiri.
Ada satu detail kecil yang sangat menggelitik dan membuat gemas. Setiap kali si balita melihat gambar baru dan belum menemukan kosakata yang pas untuk mengomentarinya, ia akan refleks bertanya, 'Apa yang terjadi?'. Secara psikolinguistik, kalimat ini bukanlah sekadar pertanyaan kosong.
Ini adalah 'jembatan kognitif' atau strategi bahasa "filler phrase" yang digunakan otaknya yang cerdas untuk menunda waktu "buying time" sementara memori jangka pendeknya sibuk mencari dan merangkai kata di dalam kepala.
Sebagai ganti diam atau rewel saat bingung, ia memilih menggunakan kalimat tanya logis untuk mempertahankan alur komunikasinya dengan sang ibu. Ini menunjukkan bahwa dorongan naluriahnya untuk memahami lingkungan dan berinteraksi sudah jauh melampaui keterbatasan kosakata yang ia miliki."
Fenomena bahwa si kecil pun sudah bisa membedakan bahasa monyet "uak-uak"dengan bahasa manusia "mama-mama" serta membandingkan perbedaan perilaku monyet dengan manusia adalah tanda KecerdasanMajemuk "Multiple Intelligences" balita sudah berkembang sangat dini.
Secara ilmiah, balita ini menunjukkan kombinasi dari tiga kecerdasan sekaligus: Kecerdasan Linguistik-Verbal: Kemampuan mengidentifikasi dan meniru konsep "bahasa" yang berbeda. 2. Kecerdasan Logika-Matematika (Komparatif): Kemampuan mengelompokkan, membandingkan (kontras )dan melihat hubungan sebab-akibat; 3. Kecerdasan Intrapersonal & Eksistensial Anak: Kemampuan memproyeksikan aturan dunia nyata (bahwa manusia/adik tidak hidup di pohon) ke dalam dunia imajinasi buku.
Kecerdasan balita yang dibiasakan melihat gambar lalu diajak berkomentar kian mencengangkan lewat kemampuannya melakukan komparasi (perbandingan) dua hal yang berbeda secara spontan.
Saat melihat gambar monyet di pohon, ia langsung membuat batasan realitas, "Adik tidak duduk di pohon." Lebih unik lagi, ketika melihat dua ekor monyet, imajinasinya melompat ke ranah lintas bahasa; ia menyebut monyet pertama bersuara 'uak-uak'' (bahasa monyet), sedangkan monyet satunya memanggil 'mama-mama' (bahasa manusia).
Secara neurosains, ini adalah tanda Kecerdasan Komparatif dan Asosiatif (Logika-Linguistik) tingkat tinggi. Di usia yang baru 2 tahun, otaknya sudah mampu memisahkan konsep fiksi dan realitas, sekaligus memetakan perbedaan identitas bahasa secara simbolis. Ia tidak sekadar meniru apa yang dilihat, melainkan sedang mengklasifikasikan dunia di kepalanya.
Bahkan ketika si monyet baginya terlihat sedih jauh dari ibunya, ia mengatakan si monyet sedang berdoa.