Seseorang yang meluangkan waktu untuk menulis sekadar menuangkan hobi dengan harapan semoga bermanfaat.
Sebagai seorang pendidik, menyaksikan kedahsyatan kognitif di usia belia ini membuat bulu kuduk saya merinding. Bayangkan, masa emas "Golden Age" anak pada usia 0 hingga 5 tahun adalah momentum krusial 90% arsitektur otak manusia dibangun.
Andaikan seluruh balita di Indonesia mendapatkan hak stimulasi yang sama---didekap hangat oleh orang tuanya di masa emas ini sembari ditemani buku bergambar---maka potret buram literasi kita di tahun 2026 ini niscaya akan runtuh.
Kita tidak lagi hanya melihat generasi yang fasih mengeja huruf, melainkan generasi pemikir kritis, ilmuwan masa depan yang humanis, sadar bahwa ada kekuatan lebih tinggi yang bisa melindungi yaitu berdoa, dan manusia-manusia yang merdeka pikirannya sejak dari ayunan. Masa depan literasi Indonesia tidak hanya cerah di dalam ruang ujian, melainkan menyala terang dari ruang tamu setiap keluarga."
Ini adalah bukti nyata bahwa literasi ternyata tidak dimulai ketika anak masuk sekolah dasar dan mengenal huruf A-B-C. Literasi dimulai justru saat anak mendekap buku bersama kehangatan orang tuanya.
Tantangan Buku Mahal: Bagaimana Solusinya?
Kita tidak bisa menutup mata bahwa salah satu kendala terbesar orang tua di Indonesia untuk memupuk kebiasaan ini adalah harga buku bergambar berkualitas yang relatif mahal bagi sebagian besar kalangan. Namun, miskinnya fasilitas tidak boleh memiskinan imajinasi anak.
Berikut adalah solusi taktis alternatif yang bisa diterapkan di rumah:
1. Maksimalkan Perpustakaan Digital Resmi:Manfaatkan aplikasi gratis milik pemerintah seperti iPusnas atau platform Let's Read dan StoryWeaver. Di sana terdapat ribuan buku bergambar gratis berkualitas yang bisa diunduh dan dibaca bersama anak melalui layar gawai secara bijak.
2. Gerakan Tukar Buku Antar-Keluarga:Buatlah komunitas kecil di lingkungan RT atau sesama anggota keluarga untuk saling bertukar "rolling" buku anak setiap dua minggu sekali. Ini akan memangkas biaya pembelian buku secara signifikan.
3. Gunakan Metode "Buku Kain" atau DIY "Do It Yourself" Orang tua bisa membuat buku bergambar sendiri dengan memanfaatkan kain perca atau memotong gambar-gambar menarik dari majalah/brosur bekas, lalu menempelkannya di kertas karton.
Bukankah, bagi balita, yang mahal bukan fisik bukunya, melainkan kehadiran emosional orang tuanya saat mendampingi mereka bercerita. Lihat si kecil yang tertawa setelah berkhayal menirukan suara monyet dan satunya lagi monyet bersuara manusia.