Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selamat Tahun Baru
Komitmen 2026, Menjaga Hidup di Antara Gelombang Badai Zaman
Memasuki gerbang tahun 2026, Dunia seakan bergerak lebih cepat dari setiap langkah kaki. Di tengah ketidakpastian global, disrupsi teknologi, dan pergeseran nilai sosial, setiap manusia membutuhkan "pegangan kuat" agar tidak terombang-ambing.
Jejak sejarah mencatat tokoh besar seperti Yosua pada tradisi Abrahamik atau para pencari kebenaran dalam berbagai iman, yang berani mengambil posisi tegas di tengah masyarakat yang ragu. "Aku dan seisi rumahku memilih menyembah Tuhan," kata Yosua dengan tegas; tak perlu validasi dan persetujuan dari siapa pun.
Kalimat bijak kuno itu tetap relevan, jika di kontekstualisasi, "Aku dan seisi rumahku, kami memilih jalan pengabdian kepada Sang Pencipta." Pesan ini bukan sekadar urusan ritual, melainkan pernyataan sikap tentang prinsip hidup yang melampaui sekat-sekat agama. Di tahun 2026, Dirimu dan Diriku dihadapkan pada pilihan serupa.
Dalam perspektif lintas iman, "beribadah" atau "berbakti" berarti meletakkan sesuatu yang absolut di atas ego pribadi. Setiap individu, ku ajak agar memiliki komitmen spiritual adalah bentuk kemerdekaan sejati, kemampuan, untuk tetap teguh pada nilai kebenaran meskipun dunia menawarkan jalan pintas yang menggoda. Pesan "seisi rumahku" menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antar generasi dalam menjaga api iman.
Untukmu Generasi Muda (Gen Z & Alpha), Komitmen spiritual adalah North Star atau kompas di tengah banjir informasi digital. Di era algoritma, berpegang pada nilai-nilai Ketuhanan bisa berarti berani memiliki integritas di media sosial, menolak arus kebencian, dan mencari makna hidup yang lebih dalam daripada sekadar popularitas sesaat.
Untukmu Generasi Senior. Tahun 2026 menjadi momentum agar memperkuat peran sebagai tiang doa dan teladan. Tugas mulia generasimu adalah menjadi kompas moral yang ditunjukkan melalui ketenangan batin bahwa ketika Dunia sementara berubah drastis, kasih Sang Pencipta adalah satu-satunya hal yang konstan.
Menghadapi "Iblis" Modern dengan Integritas. Jika teks-teks suci menceritakan perjuangan para Nabi---seperti saat Yesus menolak godaan di padang gurun---maka di masa kini, "penggoda" itu hadir dalam bentuk yang lebih halus, korupsi terselubung, apatisme sosial, hingga gaya hidup konsumtif yang mematikan rasa empati.
Oleh sebab itu, siapa pun perlu meneladani sikap tegas menghadapi cobaan melalui nilai universal yang dijunjung semua agama. Kesetiaan kepada Kebenaran Mutlak berarti memiliki keberanian untuk berkata "TIDAK" pada hal-hal yang merusak nurani, di lingkungan hidup dan kehidupan sehari-hari.
Harapan dan Kemenangan Bersama.nTahun 2026 bukanlah dihadapi dengan ketidakpastian dan ketakutan, melainkan kepastian iman. Oleh sebab itu, setiap pribadi berkomitmen untuk menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai fondasi, maka masyarakat mampu tumbuh menjadi lebih harmonis dan tangguh.
Akhir Tuturan. Mari bersama ayunkan langkah pada 2026 dan dengan erat memegang Komitmen yang sama,
"Apapun tantangan yang menerjang, hati tetap tertuju pada Sang Sumber Hidup."
"Jadikan Rumah Besar Indonesia menjadi mercusuar kasih sayang, tempat setiap generasi saling menguatkan, dan melanjutkan pengabdian kepada Tuhan menjadi napas dalam setiap tindakan.
Jakarta, 1 Januari 2026, 00.05
(Opa Jappy | Indonesia Hari Ini)