Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Peace does not arise from a multitude of soldiers and weapons.
The safest protection is not found in strong fortresses and tightly shut gates.
Social justice does not grow from the shouts of orations on a stage.
True care is not born of mere words and verses.
But ....
It comes from the sincerity of the heart, from respecting and loving one another as Siblings in Humanity.
It comes from empathy and sympathy for the struggles of life and the existence of others.
It comes from the moment we reach out a helping hand to those who are oppressed, forgotten, and currently in the midst of ruin.
Stop comforting with empty words.
Stop advising with meaningless verses.
Real actions are far more paramount than empty words and verses without meaning.
Stop menghibur dengan kata-kata kosong.
Stop menasihati dengan ayat-ayat tanpa makna.
Aksi-aksi nyata lebih utama dari kata-kata kosong dan ayat-ayat tanpa makna.
###
Perdamaian tak muncul dari banyaknya tentara dan senjata.
Perlindungan teraman bukan karena benteng kuat dan gerbang tertutup rapat.
Keadilan sosial tidak tumbuh dari teriakan orasi di panggung.
Perhatian sejati bukan karena kata dan ayat-ayat.
Tapi .....
Dari, ketulusan hati, menghormati, dan mengasihi sesama sebagai Saudara dalam Kemanusiaan.
Dari, empati serta simpati pada pergumulan hidup dan kehidupan sesama.
Dari, ketika kita mengulurkan uluran tangan pertolongan ke mereka yang tertindas, terlupakan, dan sementara ada dalam kehancuran.
Stop menghibur dengan kata-kata kosong.
Stop menasihati dengan ayat-ayat tanpa makna.
Aksi-aksi nyata lebih utama dari kata-kata kosong dan ayat-ayat tanpa makna.
Stop comforting with empty words.
Stop advising with meaningless verses.
Real actions are far more paramount than empty words and verses without meaning.
####
Manifesto Aksi Nyata, Melampaui Kata, Menyentuh Jiwa
Narasi di atas (Lyrics Lagu) dirancang untuk membangkitkan kesadaran bahwa kekuatan sejati bukan pada apa yang dimiliki atau katakan, melainkan tindakan nyata.
Dunia mungkin memberitahumu bahwa keamanan dibangun di atas tembok tinggi, gerbang terkunci, atau deretan senjata yang siaga. Tapi ketahuilah, itu hanyalah ilusi perlindungan.
Kedamaian sejati tak pernah lahir dari rasa takut atau kekuatan militer. Kedamaian yang hakiki hanya tumbuh ketika tidak ada lagi sekat di antara sesama. Oleh sebab itu, jangan habiskan energimu untuk membangun tembok, mulailah jembatan jembatan.
Keadilan tak khan pernah tegak hanya karena orasi menggelegar di atas panggung atau kutipan ayat yang berhamburan di media sosial. Kata-kata tanpa tindakan adalah kebisingan yang sia-sia. Dunia tidak butuh banyak kritikus; melainkan lebih banyak pelaku. Oleh sebab itu, ubah teriakanmu menjadi uluran tangan; robalah orasimu menjadi solusi.
Kemanusiaan adalah Satu-satunya Identitas
Saat, Dirimu dan Diriku, melihat sesama, jangan lihat labelnya, agamanya, statusnya; tapi lihatlah pergumulan hidup dan kehidupannya. Jadikan empati sebagai kompas ketika menolong mereka yang tertindas dan terlupakan. Maka, bukan hanya sedang menyelamatkan mereka, namun juga sisi kemanusiaan dalam dirimu sendiri. Ingatlah, "Jangan menghibur dan menasihati dengan janji kosong melalui ayat yang hanya singgah di bibir tapi tak menyentuh luka."
Satu langkah kaki menuju mereka yang hancur jauh lebih mulia daripada seribu kalimat bijak dan diucapkan dari kursi nyaman. Aksi nyata adalah bahasa cinta yang paling dimengerti oleh semua bangsa.
Mungkin, perlu merenungkan ulang bahwa berani "berani menantang dirimu sendiri."
* Kurangi bicara, perbanyak mendengar.
* Kurangi menghakimi, perbanyak mengasihi
* Kurangi berteori, mulailah mengulurkan tangan
Sebab pada akhirnya, sejarah tak mencatat seberapa keras suara teriakan tapi jejak-jejak kepedulian terhadap sesama. Oleh sebab itu jadilah perpanjangan tangan dari kebaikan dan ketulusan hatimu sendiri.
####
Keadilan sosial bukan produk dari teriakan di atas panggung, melainkan hasil dari kerja nyata. Ini adalah sindiran halus untuk mereka yang hanya pandai berbicara namun minim solusi praktis.
Kemanusiaan sebagai Identitas Tunggal
Opa mengajak semua agar untuk meruntuhkan tembok pemisah seperti agama, status, dan label sosial.
Konsep "Siblings in Humanity" (Saudara dalam Kemanusiaan) menjadi landasan utama bahwa menolong sesama adalah upaya menyelamatkan sisi kemanusiaan dalam diri kita sendiri.
Penggunaan frasa "Stop menasihati dengan ayat-ayat tanpa makna" menunjukkan kegelisahan terhadap praktik beragama yang hanya bersifat lisan (lip service) namun gagal menyentuh "luka" atau penderitaan nyata di masyarakat.
Metafora Tembok dan Jembatan. Salah satu kekuatan narasi ini adalah ajakan untuk "berhenti membangun tembok dan mulai membangun jembatan."
Tembok, melambangkan rasa takut, militerisme, eksklusivitas, dan keamanan semu. Jembatan, melambangkan empati, dialog, dan keterbukaan terhadap penderitaan orang lain.
Manifesto di atas adalah panggilan untuk bertindak (call to action). "Aksi Nyata" sebagai bahasa cinta universal yang melampaui segala batas bahasa dan bangsa.
Pesan yang sangat relevan di era media sosial, di mana orang cenderung lebih sibuk "terlihat peduli" melalui kutipan bijak daripada "benar-benar peduli" melalui tindakan langsung.
Ingatlah, Sejarah tidak mencatat seberapa keras suara teriakan; tapi seberapa dalam jejak kepedulian yang ditinggalkan melalui uluran tangan kepada mereka yang tertindas dan terlupakan.
(dr. Antonius Tan | Opa Jappy Official)