Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Artikei, "Kampanye Anti Child Grooming"

20 Januari 2026   13:27 Diperbarui: 20 Januari 2026   13:27 79 1 0

Child Grooming | Opa Jappy 
Child Grooming | Opa Jappy 

Usulan untuk Topik Pilihan Kompasiana, Kampanye Anti Child Grooming 

Mengamankan Masa Depan Anak, Fenomena Child Grooming dan Strategi Perlindungan


Ketika Aku Melihat ke Luar Jendela

Upaya perlindungan anak dari berbagai ancaman kekerasan seksual memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari penguatan regulasi hingga edukasi dini.

Secara hukum, Indonesia telah memiliki payung hukum yang kuat melalui UU No. 12 Tahun 2022 (UU TPKS) untuk menindak pelaku kekerasan seksual secara tegas. Namun, regulasi saja tidak cukup; Jappy (2024) menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, hingga media dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Edukasi mengenai batasan tubuh, seperti yang dipromosikan The Underwear Rule oleh NSPCC, menjadi langkah preventif krusial agar anak mampu melindungi diri sendiri. Fenomena seperti grooming dan hubungan toksik yang dipaparkan dalam memoar Moeremans (2020) jadi pengingat nyata bahwa ancaman datang dari lingkaran terdekat.

Oleh karena itu, laporan rutin dari lembaga seperti KPAI sangat diperlukan untuk memantau sejauh mana efektivitas perlindungan anak telah berjalan di lapangan.

Kemudian Tertunduk tak Berdaya

##


Belajar dari Broken Strings, Fragments of a Stolen Youth

Aurlie Alida Marie Moeremans lahir di Brussel, Belgia, 8 Agustus 1993. Putri Jean-Marc Moeremans dan Sri Sunarti. SMA di Immaculata Institud De Pane, Belgia. Setelah memenangkan kompetisi model di Bandung (2007), ia memulai akting melalui sinetron Hitam Putih dan film Putri Cantik meski awalnya belum lancar berbahasa Indonesia. Membintangi lebih 18 film, termasuk peran ikonik sebagai Dinda dalam trilogi Story of Kale dan Story of Dinda (2020--2021). Merilis single pertama berjudul "Here We Are" pada tahun 2019. Pernah aktif sebagai duta lingkungan (MoNa Warrior) bersama WWF-Indonesia untuk konservasi di Papua.

Masyarakat mengenal Aurelie sebagai aktris sukses dan selalu terlihat ceria. Namun, melalui buku ini, ia mengungkap sisi gelap yang selama bertahun-tahun  disembunyikan.  Pada Januari 2026, ia merilis buku memoar viral berjudul "Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" yang mengisahkan perjuangannya melawan child grooming dan kekerasan emosional di masa remaja.

"Broken Strings" Otobiografis yang sangat personal. Bukan sekadar memoar selebriti biasa dan pengakuan jujur mengenai pengalaman pahitnya terjebak dalam hubungan yang toksik (toxic relationship) dan penuh kekerasan di masa lalu.

Broken Strings (Dawai yang Putus) menjadi metafora kehidupannya yang sempat rusak dan kehilangan harmoni akibat manipulasi orang lain. Terjebak dalam Hubungan Toksik dan Grooming. Di usianya yang masih sangat muda (remaja), ia bertemu dengan seseorang yang lebih dewasa yang melakukan manipulasi psikologis.

Aurelie perlahan-lahan dijauhkan dari orang tuanya, dibatasi ruang geraknya, hingga kehilangan kepercayaan diri. Ini adalah contoh nyata dari grooming dan kontrol paksa (coercive control).

Aurelie mengalami penderitaan, termasuk ancaman dan tekanan mental yang terus-menerus serta larangan untuk bertemu keluarga. Pernikahan (pertama) yang terjadi di bawah tekanan dan paksaan. Ketakutan yang luar biasa untuk melapor karena adanya ancaman penyebaran foto atau cerita yang bisa merusak kariernya.

Perjuangan untuk Bangkit. Di dalamnya ada deskripsi  proses penyembuhan diri (healing). Dan, akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk keluar dari lingkaran setan tersebut, kembali ke pelukan keluarganya, dan membangun kembali karier serta kesehatan mentalnya yang sempat hancur.

Contoh Nyata Manipulasi dan Menunjukkan predator bekerja halus dengan cara "mencuci otak" korban agar membenci orang tua sendiri.

Menekankan bahwa keluarga adalah pelindung utama, dan pelaku akan selalu berusaha memutus hubungan tersebut. Menjadi pengingat bahwa siapapun bisa menjadi korban, namun selalu ada jalan untuk keluar dan memulai hidup baru.

Broken Strings adalah kisah tentang ketahanan seorang perempuan. Aurelie ingin pembacanya, terutama remaja perempuan, lebih waspada terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat dan berani bersuara sebelum terlambat.

Tantangan perlindungan anak saat in}i semakin kompleks seiring dengan bergesernya ruang interaksi ke ranah digital.

##

Kesimpulan

Menurut UNICEF, ancaman eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak secara daring menjadi isu global yang memerlukan pencegahan serius karena pelakunya memanfaatkan anonimitas internet.

Selain itu, faktor internal yang memicu perilaku pelecehan juga perlu diwaspadai; Jappy (2018) menggarisbawahi bahwa kecanduan pornografi (porn addictive) merupakan salah satu pemicu utama yang mengikis empati dan mendorong tindakan pelecehan seksual di masyarakat.

Oleh sebab itu, kesadaran keamanan ruang publik bagi perempuan juga masih menjadi rapor merah, sebagaimana disoroti dalam pengamatan Jappy (2025) mengenai banyaknya tempat yang belum memberikan rasa aman.

Melalui pemahaman terhadap memoar Moeremans (2020), semuanya diingatkan bahwa pola manipulasi atau grooming bisa terjadi di mana saja, sehingga integrasi antara kebijakan pemerintah melalui UU TPKS dan edukasi preventif menjadi harga mati bagi keselamatan generasi mendatang."

Child Grooming adalah ancaman laten yang memanfaatkan kepercayaan. Melalui pembelajaran dari kasus-kasus seperti pada Broken Strings, Anda dan Saya, diingatkan bahwa keterbukaan komunikasi dalam keluarga adalah benteng pertahanan terkuat.

Perlindungan terhadap anak adalah tanggung jawab bersama


Jakarta, 20 Januari 2026

Pro Life Indonesia
Komunitas Edukasi dan Advokasi Publik Indonesia Hari Ini
Opa Jappy | Independen Research Academy Edu

Hubungi WA +62 81 81 26 858 untuk mendapat Artikel (File .pdf) Lengkap


Rules | Pro Life Indonesia 
Rules | Pro Life Indonesia