Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Renungan 180 Detik
https://youtube.com/shorts/PSrD6lGGXYU?si=k6-ZX93Tqm42KrI9
#Di
#Tempat
#Sunyi
Melewati Jalan Koral
Ketika dunia sekitar masih sunyi dan kesepian
Ia bangun dan menuju kesepian dan kesunyian itu
Tak banyak meminta dan mengeluh; hanya menaikkan doa tanpa suara
Bukan meminta jalan lain; tapi kekuatan agar mampu melawati jalan hari ini; jalan penuh duri, batu koral, dan diapit jurang serta jaring
Mungkin, itu juga jalan yang engkau akan lewati; ingatlah bahwa Ia telah membuka jalan itu untukmu.
(Opa Jappy)
Menjemput Pagi Sebelum Dunia Riuh
Sangat banyak orang, mungkin termasuk Anda dan Saya, memulai hari dengan ketergesaan atau beban pikiran yang menumpuk bahkan sebelum kaki menyentuh lantai. Namun, "Melewati Jalan Koral" mengajak agar memulai awal yang berbeda, Menuju kesunyian.
Dalam sunyi, bukan sedang melarikan diri. Sebaliknya, sedang mengumpulkan diri. Sebelum menghadapi ekspektasi dunia, tuntutan pekerjaan, atau hiruk-pikuk masalah, butuh momen "doa tanpa suara". Di situlah mentalitas pemenang dibentuk—bukan melalui teriakan, melainkan melalui ketenangan batin yang kokoh.
"Melewati Jalan Koral" juga mengajak agar Berhenti Meminta Jalan yang Lebih Mudah. Karena salah satu jebakan terbesar manusia adalah selalu mencari "jalan pintas" atau mengeluh mengapa hidup orang lain terlihat lebih mulus. Jadi, "Bukan meminta jalan lain; tapi kekuatan."
Hidup tidak menjanjikan aspal yang halus. Hari ini mungkin adalah tentang "batu koral" (masalah yang melelahkan) dan "duri" (perkataan atau situasi yang menyakitkan). Kuncinya bukan pada mengubah keadaan agar menjadi mudah, tapi memperkuat dan kualitas dan kapasitas diri agar menjadi lebih tangguh dari koral, duri, jurang, dan jaring.
Jurang dan Jaring boleh ada dalam perjalanan; diapit oleh jurang risiko serta jaring hambatan yang menjerat langkah. Tak jarang, rasa takut membisikkan agar berbalik arah. Namun, perlu disadari bahwa hidup dan kehidupan selalu satu paket dengan jurang dan jaring tersebut.
Keberanian bukan berarti ketiadaan rasa takut, melainkan keputusan untuk tetap melangkah meskipun bahaya mengintai di sisi kanan dan kiri. Jangan pernah mundur! Jangan biarkan jaring-jaring kesulitan membuatmu menyerah. Lewati setiap jaring itu dengan ketenangan, dan lalui tepian jurang itu dengan fokus yang tajam. Ingatlah, mereka yang sampai ke puncak karena berani terus berjalan saat yang lain memilih berbalik.
Pada akhirnya "Melewati Jalan Koral" menunjukkan pesan pengharapan yang kuat sebagai sauh jiwa: "Ia telah membuka jalan itu untukmu." Katakanlah, kesulitan (jika ada) Anda dan Saya pada hari ini bukanlah tanda-tanda kiamat, melainkan jalur yang sudah dipersiapkan agar dirimu/diriku tumbuh menjadi pribadi yang lebih hebat. Ingatlah bahwa Anda dan Saya tidak pernah berjalan sendirian; jejak kaki Sang Pembuka Jalan sudah ada di sana agar diikuti dengan kepastian tiba di tujuan.
"Kekuatan tidak datang dari apa yang bisa dilakukan, tapi dari keberanian melewati hal-hal yang menurut suara hati tidak sanggup dilalui."
Selamat menapak di atas batu koral,
Selamat menembus jaring-jaring rintangan.
Jangan gentar, sebab hari ini adalah milikmu, dan jalan itu telah dibukakan untukmu.
Jakarta, 21 Januari 2026
Opa Jappy | Pro Life Indonesia