Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video, Puisi, dan Esai "Penderitaan yang Sunyi"

5 Februari 2026   19:07 Diperbarui: 5 Februari 2026   19:29 88 0 0

Lonceng Gereja | Opa Jappy 
Lonceng Gereja | Opa Jappy 

Penderitaan yang Sunyi

Di pundak bukit-bukit batu yang indah dan kokoh,
Angin berbisik membawa kabar menyayat  hati
Langit Ngada murung kelabu, tak berdaya.
Menyaksikan sesosok jiwa memilih pulang sebelum waktunya dan melalui jalan lain.

Tangis tanpa air mata, menatap sosok yang pergi tanpa pesan.
Seutas tali yang bercerita tanpa suara dan nada.
Bercerita tentang kepedihan yang tak pernah tamat

Aroma ladang-ladang kopi saksi bisu langkah-langkah yang terhenti.
Perempuan berkalung kain tenun yang indah menatap kosong dengan airmata dalam hati.

Lonceng gereja berdenting pelan
Tanda perhatian, tapi terlambat.
Perhatian yang nyaring setelah semuanya telah berlalu.
Tanah Ngada kembali menyimpan kesunyian.

Lonceng gereja berdenting pelan
Tanda perhatian, tapi terlambat.
Perhatian yang nyaring setelah semuanya telah berlalu.
Tanah Ngada kembali menyimpan kesunyian.

By Opa Jappy 

Menjadi Suara Sebelum Lonceng Berbunyi, Refleksi terhadap Penderitaan yang Sunyi


"Sebelum Lonceng Gereja Berbunyi" membawa Anda dan Saya ke lanskap kontras di Tanah Ngada. Di antara pundak bukit-bukit batu yang indah dan kokoh, tersimpan tragedi menyayat hati, Jiwa yang Memilih "pulang sebelum waktunya" melalui "jalan lain."

"Sebelum Lonceng Gereja Berbunyi," bukan sekadar ratapan duka, melainkan kritik tajam terhadap kemanusiaan, termasuk Anda dan Saya, yang terbangun ketika semuanya telah berakhir.

Kontras Keindahan dan Kehancuran

"Sebelum Lonceng Gereja Berbunyi," dibuka dengan kemegahan alam, namun segera dibenturkan dengan realitas "seutas tali bercerita tanpa suara". Itu adalah metafora kuat tentang beban hidup dan kehidupan yang tak tertahankan.

Langit murung dan aroma ladang kopi menjadi saksi bisu langkah kaki yang terhenti. Di sini, terlihat gambaran figur---mungkin seorang ayah atau "Si Papa"---yang selama ini diharapkan sekokoh bukit batu, namun nyatanya menyimpan penderitaan yang tak pernah tamat dalam kesunyian.

Kritik terhadap Perhatian yang Terlambat

Puncak dari getirnya "Sebelum Lonceng Gereja Berbunyi," terletak pada bait "Tanda perhatian, tapi terlambat. Perhatian yang nyaring setelah semuanya telah berlalu."

Kata-kata tersebut menggugat kebiasaan sosial masyarakat kekinian. Sering baru mengerahkan seluruh energi, doa, dan air mata saat kematian menjemput. "Kaum Terlambat" itu kadang memukul lonceng dengan nyaring dan paling keras; namun suara itu tak lagi memiliki arti pada dia yang sudah tertutup telinganya oleh keheningan abadi.

Hadir pada penderitaan yang sudah selesai (kematian) adalah hal  mudah. Datang sambil membawa bunga saat aroma ladang kopi tak  bisa tercium olehnya. Serta  memberikan penghormatan saat ia tak bisa merasakannya.

Namun, "Sebelum Lonceng Gereja Berbunyi," mengingatkan siapa pun bahwa dunia tidak butuh keriuhan di pemakaman; tapi kehadiran di saat perjuangan hidup dan kehidupannya masih berlangsung. Hadir dalam hidup dan kehidupan "Si Papa." Sosok "Si Papa" memikul beban di pundak yang keras, namun dibiarkan bertarung sendirian dalam batinnya.

Anda dan Saya harus berhenti menjadi saksi yang terlambat. Hadir dalam kehidupan "Si Papa" yang sedang menderita berarti memiliki keberanian untuk menembus dinding harga dirinya. Itu berarti bersedia mendengar keluh kesah tentang beratnya beban hidup dan kehidupan sebelum ia memutuskan untuk mencari "jalan lain." Satu menit kehadiran Anda dan Saya, ketika ia masih bernapas, jauh lebih berharga daripada seribu denting lonceng saat sudah tiada.

Menjadi Jangkar Sebelum Hanyut

Jangan biarkan "perempuan berkalung kain tenun" atau keluarga yang dicintai harus menatap kosong dengan air mata di dalam hati karena Anda dan Saya gagal hadir tepat waktu. Mari berjanji untuk lebih peka.

Jangan tunggu langit menjadi kelabu atau tanah kembali menyimpan kesunyian untuk mulai peduli. Jadilah tangan yang terulur saat beban masih dipikul, dan jadilah telinga yang mendengar sebelum tali bercerita dalam diam. Karena pada akhirnya, bentuk kasih tertinggi bukanlah ratapan di atas pusara, melainkan penyertaan ketika masih ada langkah-langkah hidup dan kehidupan.

Opa Jappy dan Antonius Tan | Pro Life Indonesia

Lonceng Gereja Terlambat Berbunyi, Pemegang Hak Cipta (Vocal, Musik, Video, Lyrics) Opa Jappy, WA +62 81 81 26 858