Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Ada persepsi keliru yang diam-diam tumbuh pada ruang publik atau masyarakat, bahwa isu child grooming adalah bahasan "berat" yang hanya pantas dibicarakan oleh para politisi, pejabat, atau aparat di gedung-gedung tinggi.
Dan juga, "anak-saya sudah besar," tak mungkin mereka jadi korban; atau "itu urusan mereka yang mempunyai anak dan remaja perempuan;" atau, "Child Grooming terjadi di sana, bukan di sini;" dan sejumlah nada sadis sinis lainnya, Minimal, itulah yang saya dapat ketika memulai Kampanye Anti Predator Child Grooming. Itulah Indonesia; saya sempat ragukan "keempatian, kesimpatian, kepedulian" Rakyat Indonesia Model Sinis seperti itu.
Agaknya, mereka, Kaum Sadis Sinis Acuh tersebut, merasa cukup dengan adanya undang-undang seperti UU TPKS, lalu menghela napas lega seolah tugas perlindungan anak sudah selesai di meja birokrasi.
Padahal, kenyataannya jauh lebih mendesak, Predator anak tidak menunggu instruksi pejabat untuk bergerak. Mereka tidak mengetuk pintu kantor pemerintahan dan berdiri di depan pintu rumah, sambil menanti dipersilahkan masuk. Tapi, mereka masuk melalui layar ponsel di genggaman anak-anak dan menyusup di lingkungan terdekat.
Politisi memang bertugas merancang payung hukum, namun mereka tidak ada di sana saat seorang anak menerima pesan mencurigakan di direct message media sosial pada tengah malam. Mereka tidak hadir di taman bermain saat seorang asing memberikan hadiah yang tidak wajar kepada anak tetangga.
Di sinilah peran rakyat biasa menjadi krusial. Orang tua, guru, dan tetangga adalah "Garis Pertahanan Pertama." Mereka lah yang memiliki kesempatan paling besar untuk menyadari perubahan kecil dalam perilaku anak—apakah mereka menjadi lebih tertutup, gelisah, atau memiliki barang-barang baru yang tidak jelas asal-usulnya.
Penyelamatan Dimulai dari Kepedulian Warga. Sejarah mencatat bahwa penyelamatan korban grooming dan kekerasan seksual seringkali bukan berawal dari instruksi pejabat, melainkan dari intuisi dan kecurigaan warga sekitar. Satu tetangga berani bertanya, guru peka terhadap raut wajah muridnya, atau orang tua yang melek literasi digital, bisa menyelamatkan masa depan manusia.
Grooming adalah proses manipulasi yang rapi dan perlahan. Predator membangun "jembatan" kepercayaan untuk mengisolasi anak dari orang tuanya. Jika sebagai warga biasa menutup mata dan menganggap ini urusan "orang atas," maka telah memberikan ruang bagi predator untuk membangun jembatan tersebut tanpa hambatan.
Anda dan Saya tidak perlu menunggu menjadi pejabat untuk mulai melindungi anak-anak. Menjadikan isu anti-grooming sebagai bahasan di meja makan, grup WhatsApp warga, atau di lingkungan sekolah adalah langkah nyata yang lebih mematikan ruang gerak predator daripada sekadar retorika politik.
Perlindungan anak adalah kerja kolektif. Undang-undang adalah payung hukumnya, tapi kewaspadaan rakyat adalah perisai aslinya.
Jangan biarkan anak-anak berjuang sendirian hanya karena menilai Child Grooming adalah terlalu "elit" dan retorika hampa.```
Kebesaran Bangsa di Masa Depan Bangsa, salah satunya, tergantung dari Cara Anda dan Saya Mendidik Anak Cucu
1 Februari 2026
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming
Di tengah arus modernisasi sering mengaburkan batas-batas privasi; ancaman terhadap anak-anak tidak lagi hanya datang dari fisik, tapi juga melalui manipulasi psikologis yang sistematis---dikenal sebagai child grooming.
"Mari bersatu dalam satu garis pertahanan" bukan sekadar slogan, melainkan sebuah darurat moral yang menuntut tindakan nyata dari setiap lapisan masyarakat. Garis Pertahanan yang Tak Boleh Retak. Predator anak bekerja dalam senyap, memanfaatkan kepolosan untuk menghancurkan masa depan.
"Satu garis pertahanan," itu berarti tidak ada ruang bagi sikap abai. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial harus menjadi barisan yang rapat. Jangan membiarkan satu celah pun terbuka, karena predator, itu sudah cukup untuk masuk dan merusak tatanan hidup anak.
Anak adalah Akar dari Peradaban. Mengapa perjuangan ini begitu krusial? Karena anak-anak adalah "masa depan peradaban." Menyelamatkan anak dari kejahatan seksual dan manipulasi bukan satu individu, melainkan menjaga kualitas kemanusiaan di masa depan. Peradaban besar tidak dibangun dari kemajuan teknologi semata, tapi dari sejauh mana mampu menjamin keamanan anggota keluarga paling rentan.
Menolak Normalisasi Kejahatan. Melawan "penjahat dan kejahatan terhadap anak" memerlukan keberanian bersuara. Jangan terjebak rasa sungkan atau ketakutan untuk melapor.
"Mari Bersatu, Sekali lagi, Mari Bersatu." Ini adalah penekanan bahwa konsistensi adalah kunci; tidak boleh lelah dan bosan, serta berpaling. "Keselamatan anak adalah hukum tertinggi. Tanpanya, masa depan hanyalah ruang kosong tanpa harapan."
Perjuangan melawan predator anak adalah aksi abadi antara cahaya dan kegelapan. Dengan berdiri di satu garis yang sama, berarti sedang mengirimkan pesan tegas ke dunia, bahwa masa depan anak-anak terlalu berharga untuk dikorbankan, dan Anda dan Saya adalah benteng yang mustahil ditembus.
