Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Di tengah arus modernisasi sering mengaburkan batas-batas privasi; ancaman terhadap anak-anak tidak lagi hanya datang dari fisik, tapi juga melalui manipulasi psikologis yang sistematis---dikenal sebagai child grooming.
"Mari bersatu dalam satu garis pertahanan" bukan sekadar slogan, melainkan sebuah darurat moral yang menuntut tindakan nyata dari setiap lapisan masyarakat. Garis Pertahanan yang Tak Boleh Retak. Predator anak bekerja dalam senyap, memanfaatkan kepolosan untuk menghancurkan masa depan.
"Satu garis pertahanan," itu berarti tidak ada ruang sikap abai. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial harus menjadi barisan yang rapat. Jangan membiarkan satu celah pun terbuka, karena sudah cukup untuk predator masuk dan merusak masa depan mereka.
Anak adalah Akar Peradaban. Karena anak-anak adalah "masa depan peradaban." Menyelamatkan anak dari kejahatan seksual dan manipulasi bukan satu individu, melainkan menjaga kualitas kemanusiaan di masa depan. Peradaban besar tidak dibangun dari kemajuan teknologi semata, tapi dari sejauh mana mampu menjamin keamanan anggota keluarga paling rentan.
Melawan "penjahat dan kejahatan terhadap anak" memerlukan keberanian bersuara. Jangan terjebak rasa sungkan atau ketakutan untuk melapor.
"Mari Bersatu, Sekali lagi, Mari Bersatu." Ini adalah penekanan bahwa konsistensi adalah kunci; tidak boleh lelah dan bosan, serta berpaling. "Keselamatan anak adalah hukum tertinggi. Tanpanya, masa depan hanyalah ruang kosong tanpa harapan."
Perjuangan melawan predator anak adalah aksi abadi antara cahaya dan kegelapan. Dengan berdiri di satu garis yang sama, berarti sedang mengirimkan pesan tegas ke dunia, bahwa masa depan anak-anak terlalu berharga untuk dikorbankan, dan Anda dan Saya adalah benteng yang mustahil ditembus.
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming