Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Malam ini, layar masih dipenuhi oleh barisan tujuh ekor anjing yang berjalan tegap di tengah dinginnya salju Jilin. Di sisi lain dunia, layar yang sama menampilkan wajah-wajah pemimpin besar: Putin dengan retorika kedaulatannya, Trump dengan ambisi kembalinya, hingga eskalasi di Iran dan Israel yang tak kunjung padam. Ada kontras yang menyakitkan di sana.
Tragedi "Spesies yang Terpecah." Banyak orang melihat tujuh anjing, dari Golden Retriever hingga German Shepherd, berjalan dalam satu barisan. Mereka berbeda jenis, namun satu spesies. Mereka bergerak tanpa protokol, ajudan, dan dendam sejarah.
Bandingkan dengan para pemimpin dunia. Mereka satu spesies (manusia), namun menciptakan sekat-sekat yang tak tertembus. Mereka bicara tentang perdamaian sambil menimbun hulu ledak. Mereka bicara tentang kemanusiaan, namun kebijakannya justru "menjagal" martabat manusia.
Manusia haus teladan, namun yang ditemukan hanyalah kepalsuan yang dipoles citra.
Mengapa Memilih Percaya pada Kebohongan? Narasi liar bahwa ketujuh anjing "kabur dari rumah jagal" adalah fabrikasi emosional. Secara faktual, Seven Dogs hanya mengikuti insting biologis dan kefaunaan. Namun, mengapa jutaan orang memercayai kisah pelarian heroik itu?
Jawabannya sederhana, Dunia sedang krisis Pahlawan; sudah tidak lagi percaya pada janji politik; sudah muak dengan narasi "Hero" dari Washington, Moskow, atau Teheran yang selalu berujung pada kepentingan sempit.
Karena tidak ada lagi manusia yang bisa dijadikan teladan murni, akhirnya "menciptakan" teladan itu pada hewan. Manusia butuh percaya bahwa di dunia masih ada kesetiaan, keberanian, dan persatuan, walaupun itu harus pinjam dari imajinasi tentang tujuh ekor anjing.
AI dan Hilangnya Hakikat Kebenaran. Ironinya, narasi ini diperkuat oleh AI. Manusia menggunakan teknologi tercanggih hanya untuk membumbui kebohongan demi kepuasan batin.
Itu adalah pelarian moral; karena banyak orang memilih "kebohongan yang indah" daripada menghadapi kenyataan bahwa dunia manusia sedang berantakan.
Pertanyaan Sunyi Malam ini, barangkali perlu bertanya pada diri sendiri, "Seberapa rendahkah martabat kemanusiaan saat ini, hingga harus mencari cermin keluhuran budi pada sekawanan anjing yang berjalan di pinggir jalan raya?"
Seven Dogs tidak butuh validasi; hanya berjalan. Namun, manusia yang merasa paling cerdas, justru sedang berlari menjauh dari hakikat kemanusiaannya sendiri, bersembunyi di balik narasi-narasi palsu karena takut melihat betapa kosongnya kursi keteladanan di puncak kekuasaan dunia.
Opa Jappy | Pro Life Indonesia