Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Malam
Di sudut kamar, bayangmu terbayang
Biru malam, menembus hati
Yang kosong, dan
Kegelapan tak berujung
Pagi Ini
Mawar putih, di ujung kegelapan Taman
Sendiri dalam kesendirian menanti sentuhan
Menyembuhkan Jiwa yang terluka
Night
In the corner of the room, your shadow looms
The night's blue hue, piercing through my heart
That's empty, and Endless darkness
This Morning
A white rose, at the edge of the darkened garden
Alone in solitude, awaiting a touch
To heal a wounded soul
Melalui Kelam Menuju Harapan
"Malam, Pagi Ini" narasi puitis perjalanan emosional seseorang yang terjebak dalam kesedihan namun tetap berharap adanya penghiburan. Ia ada pada transisi antara kegelapan malam dan fajar pagi dengan kondisi jiwa yang sedang terluka.
"Biru Malam" bukan sekadar warna langit, melainkan ketajaman "menembus hati yang kosong." Sehingga, tak ada malam istirahat, melainkan panggung hantu bayang-bayang masa lalu. Ketajaman itu "tak berujung" menambah putus asa dan kesepian mendalam.
Mawar Putih dan Harapan Pagi. Kepedihan berganti pada "pagi ini" menjadi Mawar Putih di kegelapan taman. Mawar Putih kesucian, ketulusan, dan awal yang baru. Walau "kesendirian" di antara kegelapan, masih ada keindahan.
Ia yang sendiri tetap "menanti sentuhan menyembuhkan jiwa yang terluka." Walau hancur, masih ada keinginan instingtual agar pulih; jiwa rapuh namun sabar menanti datangnya pemulihan.
"Still alone, long lines" bahwa proses pemulihan tidak instan. Ada garis panjang atau waktu yang harus dilalui dalam kesendirian sebelum luka tersebut benar-benar menutup.
"Malam, Pagi Ini" adalah meditasi kesepian dan harapan. Bahwa malam paling gelap sekalipun, selalu diikuti pagi; dan jiwa yang terluka, seperti mawar di taman, berhak menanti sentuhan pemulihan.
Opa Jappy | Pro Life Indonesia
