Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Ada anomali sosial terang benderang di Indonesia, yaitu kaum terpelajar dan akademisi (misalnya Profesor, Doktor) menunjukkan sikap kikir dan enggan berbagi ilmu di ruang publik; atau gagal mengelola kecerdasan untuk berbagi ke Ruang Publik. Agaknya, mereka menggunakan jargon menjaga jarak sosial.
Secara sosiologis, sikap itu diidentifikasi sebagai elitisme yang didorong oleh pertimbangan Modal Budaya. Serta, kegagalan metakognisi; sehingga ilmu mandek di kalangan eksklusif, sementara ruang publik diisi oleh hoaks, disinformasi, opini sesat dan menyesatkan.
Pertanyaan, "Mengapa Mereka Diam!?" Coba perhatikan di grup chat atau media sosial. Ketika ada isu penting, misalnya harga pangan, polusi, kebijakan baru, intoleransi, dan lain-lain: Publik bertanya, "Mengapa para Profesor, Doktor, atau orang-orang yang sekolahnya tinggi justru diam, atau kalaupun bicara, bahasanya sulit dimengerti?"
Jawaban saya, jujur dan mungkin sedikit pedas, "Selain karena sifat kikir dan pelit, mereka adalah orang-orang yang Pintar otaknya, tapi tidak Cerdas mengelola kepintaran itu. Mereka kurang membumi, angkuh, dan sombong; nyaman di 'Menara Gading' sendiri, enggan berbagi ilmu dengan bahasa yang sederhana."
Keangkuhan Intelektual seperti itu, bisa saja atau umumnya terjadi akibat, Gagalnya Pendidikan Afektif. Sistem pendidikan yang terlalu berfokus pada hasil kognitif (IPK), sehingga melahirkan lulusan cerdas secara akademik tapi miskin nilai-nilai kemanusiaan dan etika.
Kikir dan keangkuhan intelektual tersebut, mungkin tak disadari banyak orang, namun eksesnya terlihat. Itu terbukti dengan terciptanya
Jika semuanya itu terus menerus terjadi, maka harapan besar Saya, dan mungkin juga Anda serta Bapak, Ibu Pembangun Bangsa, bahwa segenap Anak Bangsa menjadi Pribadi, Komunitas, Masyarakat Terdidik tak khan tercapai.
Malah semakin melebar dan dalamnya gap antara Kaum Terpelajar dan Mereka atau Rakyat yang tidak mendapat pendidikan berkualitas; dan ditandai dengan kemiskinan literasi yang parah.
