Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Minum Kopi di Ruang Tamu"

9 Mei 2026   20:59 Diperbarui: 9 Mei 2026   20:59 213 1 0

Predator | Opa Jappy
Predator | Opa Jappy



Predator Child Grooming Minum Kopi di Ruang Tamu.

Banyak Orang membayangkan Predator Child Grooming berupa sosok asing yang menyeramkan, bersembunyi di gang gelap, atau mengintai di balik semak-semak. Bayangan seperti membuat rasa aman selama pintu rumah terkunci rapat.

Namun, kenyataannya jauh lebih pahit, Predator modern tidak membobol pintu rumah; mereka justru dipersilakan masuk, bersama Anda minum kopi bahkan memuji kebaikannya. Padahal, "Orang Baik" itu sementara melakukan proses "penjinakan" sistematis, halus, dan sangat mematikan masa depan anak atau korban.

Manipulasi Berkedok Perhatian dan Kasih Sayang. Child Grooming adalah kejahatan paling licik terhadap anak-anak karena menggunakan senjata yang paling mulia, yaitu kasih sayang. Pelaku, tepatnya Predator, memberikan perhatian yang tidak diberikan orang tua; misalnya hadiah, pujian yang melambungkan ego.

Bahkan memunculkan apresiasi (misalnya dari Orang Tua) tentang Si Predator Bertopeng sebagai "Om baik", "Guru yang perhatian", atau "Kakak sepupu suportif," "Kakak Baik," dan lain sebagainya. Karena predikat dan label "Baik" itu, maka orang tua membiarkan, bahkan merelakan, anak berduaan dengan "Si Baik" itu. Misalnya, ke Mall, Nonton, Jalan-jalan, hanya berduaan dengan anak (yang akan dijadikan korban), termasuk memberikan hadiah mewah atau uang saku tanpa alasan yang jelas.

Sebenarnya yang terjadi, bukan cinta, sayang, perhatian, dan obral kebaikan; melainkan sementara berinvestasi. Predator Itu sedang "membeli" kepercayaan anak agar ketika saatnya tiba untuk melakukan kekerasan seksual, si anak pasrah sebagai balas budi atau terlalu malu untuk melapor, karena tercipta "luka yang tak berdarah."

Luka yang Tidak Berdarah. Korban Predator Child Grooming sering tidak berteriak, marah yang meluap, atau pun histeris. Karena mereka bingung. Mereka merasa orang dewasa ini adalah sahabat serta "Baik," dan rasakan serta menerima banyak kebaikan darinya.

Namun, sebetulnya mengalami goncangan psikologis; yang secara pelan merusak eksistensi serta kepribadiannya. Dalam sikon menggerikan itu, dampaknya jauh lebih merusak; korban kehilangan kepercayaan pada orang dewasa, cinta, dan diri mereka sendiri.


Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming