Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu
Lebah klanceng liar (Trigona sp.) merupakan jenis lebah yang tidak memiliki sengat. Hidup berkoloni dalam jumlah kecil ini hidup bebas di alam, khususnya di kawasan hutan tropis dan subtropis.
Lebah Klanceng liar suka bersarang di sela-sela pohon kering, rongga kayu, batang bambu, dan celah-celah batu. Bahkan, mereka juga membuat sarang di antara celah tembok atau pondasi rumah.
Lebah klanceng atau lebah tanpa sengat (stingless bees) dari genus Trigona dan Tetragonula sangat populer di Indonesia. Madu yang dihasil berkhasiat tinggi.
Di Indonesia, terdapat lebih dari 40 jenis lebah klanceng, baik yang hidup bebasa dan liar di alam, maupun yang sudah dibudidayakan untuk menghasilkan madu, propolis, dan membantu penyerbukan tanaman.
Tidak seperti lebah umumnya, klanceng tidak bersengat (stingless bee). Mereka tidak menyengat, tetapi mempertahankan diri dan sarangnya dengan membuat propolis untuk menutupi sarangnya.
Keunikan lainnya, madu yang dihasilkan bercita rasa asam manis. Madu ini disimpan di dalam kantong-kantong kecil yang berada di dalam sarang.
Pakan diperoleh dengan mencari nektar dan polen dari berbagai jenis bunga tumbuhan liar di sekitar lingkungan mereka.
Jenis Klanceng budidaya memiliki sifat tidak terlalu agresif, produktivitas madu yang baik, dan mudah beradaptasi di kotak budidaya dibandingkan dengan yang liar.
Beberapa jenis lebah klanceng budidaya yang disampaikan oleh salah seorang pembudidaya lebah Klanceng (Stingless bee) di kawasan Ciputat adalah sebagai berikut.
1. Heterotrigona itama: lebah ini sering disebut "kelulut beruang".
Paling populer dibudidayakan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ukurannya lebih besar, menghasilkan madu dalam jumlah banyak, dan koloni yang stabil.