Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Kematian Kognisi"

9 Mei 2026   12:20 Diperbarui: 9 Mei 2026   12:20 231 0 0

Metakognisi | Opa Jappy
Metakognisi | Opa Jappy


Ironi Metakognisi di Era Kecerdasan Buatan




Era I T, A I, dan Entah apa lagi, merupakan langkah raksasa menuju "bisa tahu segala sesuatu." Minimal, I T dan A I berhasil membasmi Kemiskinan Kognisi pada manusia (jika mereka mau menemukan pencerahan). Namun, ironisnya, jika terjadi ketergantungan, maka yang muncul adalah hilangnya ketrampilan berpikir. Nalar manusia semakin tumpul dan lumpuh karena mereka "dikelola" dari jauh oleh produsen platform Aplikasi A I.

Nihil est quod homo nesciat

Homo nihil ignorat

Omnia homini nota sunt

Nihil humanum intellectum fugit


Tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui manusia
Manusia tidak mengabaikan atau tidak tidak tahu apa pun
Segala hal diketahui oleh manusia
Tidak ada yang luput dari pemahaman manusia

(Opa Jappy, 2026)


Kalimat-kalimat tersebu sekilas terdengar seperti kidung pemujaan terhadap kejayaan ras manusia. Di abad ke-21, era  Artificial Intelligence dan penetrasi teknologi informasi yang menembus ruang privat. Terlihat ada benarnya.

Bahkan, saat ini, seluruh perpustakaan dunia bisa diakses dari telapak tangan. Sehingga secara teknis, "taak ada yang tidak diketahui manusia." Namun, di balik kemegahan akses tersebut, Anda dan Saya sedang menyaksikan tragedi intelektual yang sunyi yaitu Kemiskinan Kognisi, dengan pelan tapi pasti menuju Kematian Kognisi.

Itu bukan estimasi menakutkan tapi realitas bahwa kemudahan akses informasi, justru berbanding terbalik dengan keinginan memahami; atau manusia melakukan pintasan, "Mesin dan Orang Lain Berpikir untuk Saya." Pintasan itu, hanya menghasilkan insan-insan robot salin tempel atau copas. Maka yang terjadi adalah manusia merasa telah "mengetahui" hanya karena "melihat" ringkasan di layar smartphone. Padahal, yang terjadi adalah distorsi makna pengetahuan, dari proses dialektika panjang menjadi sekadar konsumsi instan tanpa kunyahan logika.

Paradoks Ilusi Pengetahuan dan Kematian Kognisi. Paradoks ini berakar pada kematian Kognisi. Ketika A I mampu menjawab segala hal, otot-otot berpikir manusia mengalami atrofi, penyusutan karena jarang digunakan.  Kemalasan mencari jawaban secara mandiri telah membunuh hasrat  bereksplorasi. Banyak orang  tidak lagi memiliki keberanian intelektual mengakui, "Saya tidak tahu," kemudian berjuang mencari tahu. Mereka memilih "tahu sedikit tentang segalanya, tapi tidak memahami apa-apa."

Hal tersebut diperparah  hilangnya Metakognisi; cerdas mengelola kecerdasan (Rhenald Kasali dan Opa Jappy). Tanpa metakognisi, manusia kehilangan menakar batas kemampuannya. Level terendah kondisi manusia modern saat ini adalah mereka "tak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu." Itu bermakna, mereka stagnan, enggan menerima tantangan baru, dan merasa cukup dengan permukaan informasi yang dangkal. Hasilnya adalah lahirnya generasi  pintar secara teknis namun minus nilai kemanusiaan dan etika. Mereka memiliki alat, A I  dan I T,  tapi tak mempunyai  "kunci" agar menggunakan demi keberlangsungan hidup dan kehidupan.

Jika metakognisi sebagai kemampuan menyampaikan kecerdasan ke sesama dengan bahasa yang membumi, maka dunia hari ini justru dipenuhi oleh orang-orang  "cerdas untuk diri sendiri" atau hanya dalam kelompok minatnya. Mereka gagal melakukan transfer ilmu karena tidak benar-benar memahami apa yang diketahui.

"Nihil est quod homo nesciat," seharusnya tak menjadi kalimat sombong di atas menara gading teknologi. Tapi, pengingat tanggung jawab manusia; bahwa pengetahuan hanya berguna ketika manusia mampu mensistematikkan informasi, mengontrol pertumbuhan keterampilan berpikirnya, dan terus mengisi diri dengan hal-hal baru tanpa kepuasan semu.

Oleh sebab itu, manusia tidak menyerahkan kedaulatan berpikirnya pada algoritma A I dan I T,  melainkan gunakan sebagai batu loncatan agar mencapai pemahaman mendalam. Jika membiarkan kemalasan berpikir, maka "Tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui manusia," hanyalah nisan peradaban karena kekenyangan informasi namun kelaparan pemahaman.

Kematian Kognisi adalah ancaman nyata. Pilihan ada di tanganmu; tetap menjadi "tuan" yang cerdas mengelola kecerdasan, atau budak di tengah lautan data yang tak pernah benar-benar  dimengerti.


Opa Jappy  |  Ki Lurah Komunitas Edukasi dan Advokasi Publik Indonesia Hari Ini