Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kejahatan yang dilakukan Predator Child Grooming bukan sekadar kekerasan seksual biasa; tapi sabotase sistematis terhadap kemanusiaan melalui manipulasi psikologis, kepura-puraan cinta, maupun kasih sayang palsu. Predator merampok masa depan anak-anak dalam kesunyian, memutus komunikasi mereka dengan orang tua, serta meninggalkan luka batin menganga hingga kematian menjemput.
Oleh sebab itu, perlawanan tidak boleh berhenti hanya pada kemarahan atau penangkapan pelaku. Terdapat tugas moral jauh lebih besar yaitu memulihkan martabat dan harapan para korban. Karena sering terjadi, masyarakat secara tidak sadar melanjutkan kekejaman tersebut dengan menyematkan stigma negatif, pandangan menghakimi, atau tatapan iba terhadap mantan korban Predator Child Grooming. Bahkan, ada juga yang mengucilkan mereka, dikurang, serta, umumnya orang tua, memberi sejumlah aturan ketat (semuanya itu, justru semakin menghancurkan secara sosial dan psikologis).
Agar membantu predator menghancurkan sisa-sisa "kejahatan," maka ejekan sinis sebagai "korban" (misalnya, "Kamu sudah hancur," "Kamu tak punya kehormatan," "Dasar tak bisa jaga diri," "Bekin malu keluarga," dll) harus segera dihentikan. Jika terjadi "pengulang pengrusakan" seperti itu (terutama di/dari Keluarga), maka bisa dipastikan durasi hidup dan kehidupan mantan korban menjadi singkat. Ia akan menghadap Sang Khalik dengan penuh kehancuran dan luka-luka batin; di pangkuan Sang Khalik, ia kembali utuh sebagai mahkota ciptaan. Oleh karena itu, Berhenti menghakimi dan mulailah melindungi. Hapus anggapan bahwa mereka adalah "noda," sebaliknya lihatlah sebagai jiwa yang sedang terluka.
Dan, yang utama adalah Pemberian "Air Kasih Sayang dan Pupuk Penerimaan." Mereka ibarat bunga layu sebelum waktunya namun tetap memiliki akar kuat. Hanya melalui perhatian tulus serta penerimaan tanpa syarat, anak-anak tersebut dapat kembali mekar menjadi pribadi berdaya. Itulah Ekosistem yang Aman. Ekosistem yang menjamin mereka sebagai orang yang tetap terhormat, tanpa takut atau malu berekspresi serta aktualisasi diri.
Kepalkan satu tangan guna melawan serta memburu Predator Child Grooming; namun rentangkan lengan lainnya agar memeluk sekaligus menyembuhkan jiwa-jiwa retak.
Jangan biarkan siapa pun berjuang sendirian di sudut sepi. Inilah saatnya membuktikan bahwa kekuatan kasih sayang jauh lebih besar daripada trauma yang dialami.
Nyalakan lilin-lilin harapan dan pastikan tidak ada satu pun anak merasa terbuang.
Segera bergerak demi masa depan yang lebih bermartabat.
