Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Inilah Aku"

17 Mei 2026   05:00 Diperbarui: 16 Mei 2026   19:44 232 0 0

Mengetuk Pintu Surga | Opa Jappy 
Mengetuk Pintu Surga | Opa Jappy 




"Siapakah aku sehingga Engkau memahkotaiku dengan kemuliaan dan kehormatan..." (King David)


Ketika Sang Aku, mungkin saja Anda dan Saya, memandang seluas jangkauan indra, bertanya, "Siapakah Aku?"  Ternyata dirinya, seperti Anda dan Saya, sangat kecil di antara luasnya Semesta, telah dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan.

Suatu Anomali dan kontras. Di hadapan semesta luas, manusia sangat kecil dan tidak berarti. Namun, Tuhan peduli, bahkan memberikan martabat, kemuliaan, dan kehormatan. Karena itu, jika ada "di tanah yang retak, saat aku jatuh, Kau angkat namaku. 

Bila langkahku goyah, Kau tetap memanggil..."; simbolisasi masa-masa sulit, penderitaan, atau kekeringan spiritual, Ia selalu ada. Bahkan, jika tenggelam dalam kegagalan (jatuh) atau keraguan (langkah goyah), Tuhan selalu setia memanggil dan memulihkan.

"Inilah aku, ku datang pada-Mu. Inilah aku, ciptaan-Mu..." Adalah penyerahan secara total, pengakuan identitas diri sebagai ciptaan, dan kesediaan  datang mendekat pada Sang Pencipta dengan segala keterbatasan. "Inilah Aku" membawa pesan kasih karunia, pemulihan, dan kesetiaan Tuhan. Mengajak Anda dan Saya menyadari kerapuhan diri sebagai manusia, sekaligus merayakan kasih Tuhan merengkuh kembali jiwa yang terluka serta tersesat.


Tanah yang Retak | Opa Jappy 
Tanah yang Retak | Opa Jappy 

Inilah Aku, Ia Selalu Ada


Di antara bentangan semesta, galaksi tak terhitung jumlahnya, bintang berkilau di langit malam, hingga samudera yang luas mendalam, manusia hanya titik kecil yang nyaris tak terlihat. Muncullah pertanyaan eksistensial yang jujur, "Siapakah aku di hadapan semua keagungan ini?" Itulah  kesadaran betapa kecil dan rapuhnya diri; sekaligus awal perjalanan spiritual yang mendalam; bahwa Ia selalu ada.

Ia, dengan keagungan eksistensi-Nya, tak membiarkan manusia, siapa pun, terasing dan terabaikan dalam kekecilannya. Dengan kasih karunia yang radikal, Sang Pencipta semesta tidak memandang manusia dari kejauhan yang dingin. Sebaliknya, Ia memilih agar tetap dekat, memedulikan, bahkan "memahkotai" manusia dengan kemuliaan dan kehormatan. Itu adalah pemberian sukarela dari Sang Pencipta pada segenap ciptaan.

Kehadiran-Nya sangat nyata justru ketika manusia berada di titik terendah. Sekalipun berada "di tanah retak," kondisi jiwa kering, gersang, patah hati, atau hancur oleh beban kehidupan. Bahkan, jika tanah retak itu adalah masa-masa kehilangan, kegagalan karier, hancurnya hubungan, depresi yang mendalam; atau momen-momen benar-benar sendirian, ditinggalkan oleh dunia.

Namun, "Ia Selalu Ada" bukti bahwa tanah retak tak menenggelamkan dan menghancurkam. Ada tangan yang tak terlihat siap mengangkat eksistensi; dan suara lembut memanggil untuk pulang. Ia tidak menunggu Anda dan Saya menjadi sempurna atau kuat, kemudian mendekati-Nya.

Kehadiran-Nya adalah jaminan pemulihan; walau telah hancur berkeping-keping. Kesetiaan-Nya tanpa syarat, pada akhirnya melahirkan respons kepasrahan dari dalam hati, "Inilah aku, ku datang pada-Mu." Aku yang datang setelah menanggalkan semua topeng kesombongan dan kepura-puraan. Datang sebagai "ciptaan-Mu" yang mengakui keterbatasan, tidak bisa berjalan sendiri, serta butuh Sang Arsitek Hidup dan Kehidupan agar  merajut kembali serpihan-serpihan diri.

"Inilah Aku" adalah pelukan hangat pada setiap jiwa sedang terluka atau tersesat. Sejauh apa pun  melangkah, sekelam badai yang dihadapi, dan sehancur tanah tempat berpijak, Anda dan Saya tidak pernah berjalan sendirian.

Manusia boleh gagal, dunia  meninggalkan, kekuatan telsh habis, tapi satu hal yang tetap abadi dan tidak pernah berubah, Ia selalu ada, siap merengkuh, memulihkan, dan mengasihi apa adanya.


Opa Jappy | Pro Life Indonesia