Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Pesta Babi"

20 Mei 2026   04:05 Diperbarui: 20 Mei 2026   05:06 261 2 2

Pesta | Opa Jappy
Pesta | Opa Jappy



Public Service Announcement | Opa Jappy 
Public Service Announcement | Opa Jappy 

Esai Tanggapan terhadap Film Pesta Babi,

Artefak Perlawanan Modern



Menolak Sunyi. "Esai untuk Film Pesta Babi," tidak menawarkan tontonan rekreasi, tapi otopsi publik terhadap pembusukan sistemik di Indonesia, dengan episentrum duka yang ditarik secara berani ke Tanah Papua. Sekaligus membongkar bagaimana kekuasaan, kapitalisme global, dan pengkhianatan domestik berkoalisi menciptakan kubangan "lumpur" tempat mereka melegalkan egoisme kolektif, sembari memaksa rakyat jelata menjadi penonton yang kelaparan di balik pagar ulayat mereka sendiri.

"Pesta Babi, " Normalisasi Dekadensi dan Kanibalisme Politik. Secara sosiologis, "Pesta" dan "Babi" merupakan pukulan telak terhadap moral kekuasaan. Pesta yang sejatinya melambangkan kesucian perayaan atau kegembiraan komunal, didegradasi menjadi selebrasi kerakusan primitif.

Kaum rakus itu, melakukan rekayasa sistemik, melibatkan birokrasi, korporasi, dan politik praktis, sebagai kubangan lumpur. Hukum besi kubangan ini sangat mengerikan, siapa pun yang masuk ke dalamnya, sebersih apa pun awalnya, akan pulang membawa bau lumpur dan darah yang sama.

Ketakutan terbesar para elite saat menonton visualisasi FPB bukan pada kualitas sensor filmnya, melainkan fakta bahwa topeng kesucian mereka diruntuhkan secara akurat. Mereka ketakutan melihat pantulan diri sendiri yang kanibalistik, ekosistem sesama rekan koalisi saling mengintai, siap menyembelih siapa saja.

"Karena ulah babi-babi itu, tidak salah jika Papua ingin lepas dari NKRI." Pernyataan ini bukan bentuk makar atau provokasi politik murahan. Tapi, kesimpulan kausalitas (sebab-akibat) yang jujur dan berani. Menunjukkan ekspresi tertinggi dari kemarahan moral (moral outrage) seseorang yang melihat ketidakadilan sudah melampaui batas toleransi kemanusiaan; dan Negara membiarkan "para babi" terus berpesta di atas penderitaan Papua.



Opa Jappy | Lurah Komunitas Edukasi dan Advokasi Publik Indonesia Hari

Sehari Satu Tulisan Pengharapan