Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Air Mata Guru Honorer di Ujung Tahun 2026. Mereka mengabdi Puluhan Tahun, Kini Dihantui Ketidakpastian karaena kebijakan belum berpoihak kepada guru honorer. PGRI jawa tengah menanggapi dengan bijak keputusan tersebut, dan berupaya agar guru honorer tidak dirugikan.
https://www.youtube.com/watch?v=1V2JM2zHYbg
Suasana ruang guru di banyak sekolah terasa berbeda sejak terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026. Di tengah aktivitas belajar mengajar yang tetap berjalan seperti biasa, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan dari wajah para guru honorer.
Sebagian guru honorer membaca isi surat edaran itu dengan tangan gemetar. Sebagian lainnya hanya terdiam lama setelah mengetahui bahwa penugasan guru non-ASN masih diperbolehkan hingga 31 Desember 2026.
Bagi masyarakat umum, surat edaran itu mungkin terlihat seperti dokumen administratif biasa. Namun bagi ribuan guru honorer di Indonesia, satu kalimat di dalamnya terasa seperti alarm yang mengingatkan bahwa masa pengabdian mereka bisa saja segera berakhir tanpa kepastian yang jelas.
Tidak sedikit guru honorer yang mengaku menangis setelah membaca isi aturan tersebut. Mereka merasa cemas memikirkan masa depan. Selama bertahun-tahun mereka telah mengabdi di sekolah negeri dengan penuh kesetiaan, tetapi kini mereka dihantui pertanyaan besar: setelah tahun 2026, apakah mereka masih memiliki tempat untuk mengajar?
Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Banyak guru honorer sudah mengabdikan hidupnya belasan bahkan puluhan tahun untuk dunia pendidikan. Mereka hadir paling pagi di sekolah dan sering pulang paling akhir.
Mereka membantu murid memahami pelajaran, membimbing kegiatan sekolah, mendampingi lomba, hingga mengurus administrasi pendidikan yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Ironisnya, pengabdian sebesar itu sering kali tidak diiringi kesejahteraan yang memadai.
Masih banyak guru honorer yang menerima honor jauh di bawah kebutuhan hidup layak. Ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah setiap bulan. Bahkan di beberapa daerah, honor guru honorer dibayarkan tidak menentu.
Namun mereka tetap bertahan. Bukan karena pekerjaan itu menjanjikan kekayaan, tetapi karena mereka mencintai dunia pendidikan. Kita melihat guru yang mencerdaskan anak bangsa malah di anak tirikan, petugas SPPG dan MBG malah di anak emaskan oh sedihnya nasib guru honorer di negeri ini.