Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Air Mata Guru Honorer

20 Mei 2026   08:47 Diperbarui: 20 Mei 2026   08:47 198 6 1

Di desa-desa terpencil, guru honorer tetap datang ke sekolah meski harus melewati jalan rusak, menyeberangi sungai, atau mengendarai motor tua yang sering mogok di tengah perjalanan. Mereka tetap mengajar dengan senyum meski di rumah sendiri terkadang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada guru honorer yang menggunakan uang pribadi untuk membeli spidol, kertas, bahkan membantu murid yang tidak mampu membeli buku. Ada pula yang rela menahan keinginan pribadi demi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan baik.

demo guru/pgri
demo guru/pgri

Pengorbanan itu sering tidak terlihat.

Masyarakat hanya melihat guru berdiri di depan kelas. Padahal di balik itu, ada perjuangan panjang yang penuh air mata dan pengorbanan. Kasihan Guru Gonorer. Mereke berjuang, dan mengabdi dengan harapan bila ada pengangkatan guru tetap bisa menjadi pertimbangan. 

Kini, setelah muncul batas penugasan hingga akhir 2026, banyak guru honorer mulai dilanda kecemasan mendalam. Mereka takut kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Lebih dari itu, mereka takut kehilangan identitas sebagai seorang pendidik.

"Kalau tahun depan saya tidak mengajar lagi, saya harus kerja apa?" Pertanyaan itu mulai sering terdengar di ruang guru.

Bagi guru honorer yang masih muda, mungkin peluang mencari pekerjaan lain masih terbuka. Namun bagaimana dengan mereka yang sudah berusia di atas 40 atau 50 tahun? Setelah puluhan tahun mengajar, tentu tidak mudah memulai hidup baru dari nol.

Sebagian guru honorer bahkan tidak memiliki keterampilan lain selain mengajar. Hidup mereka telah sepenuhnya didedikasikan untuk sekolah dan murid-muridnya. Mereka menghabiskan usia produktif demi membantu negara mencerdaskan generasi bangsa.

Karena itulah, kegelisahan para guru honorer bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan. Ini tentang rasa takut menghadapi masa depan yang gelap setelah pengabdian panjang yang belum tentu dihargai secara layak.

Di media sosial, banyak masyarakat menyampaikan simpati dan dukungan kepada para guru honorer. Tidak sedikit orang tua murid yang merasa sedih membayangkan guru-guru anak mereka harus berhenti mengajar. Sebab mereka tahu, di banyak sekolah justru guru honorer menjadi tulang punggung kegiatan belajar mengajar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4