Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kegelapan Metropolis. Metropolis, secara fisik selalu diidentikkan gemerlapan cahaya, pencakar langit, dan aktivitas 24 jam. Namun, sebetulnya penuh kegelapan dan jiwa-jiwa hancur." Terang fisik metropolis menghilangkan makna kemanusiaan berakibat kehancuran ruang batin.
Bunyi Metropolis tidak memiliki ritme alam (seperti air terjun atau kicauan burung), melainkan "melodi kebisingan mesin". Mesin-mesin menerobos masuk hingga ke dinding privasi, merenggut hak manusia atas kesunyian; suatu "kebutuhan berlian," sesuatu yang sangat langka, mahal, dan hampir mustahil ditemukan di rimba beton.
Manusia modern dipaksa hidup dalam "ruang kehancuran" yang mekanis. Ketika mesin menggantikan alam, manusia kehilangan kemampuan berkontemplasi. Rimba raya modern tidak lagi menguji fisik manusia dengan hewan buas, melainkan menguji mental dengan rutinitas robotik dan keterasingan sosial.
Menghadapi kehancuran tersebut, ada upaya bertahan. Di tengah kegelapan, manusia membutuhkan "pendar lilin atau lentera kecil". Cahaya ini tidak perlu besar, yang terpenting adalah konsistensi mengusir rasa sepi, serta melawan hantaman badai modernitas. Energi yang digunakan bersifat internal yaitu kasih sayang terhadap kemanusiaan, keluarga, dan Pencipta.
Kehidupan dan Hidup di metropolis adalah "perjalanan pengabdian berbatas waktu." Di situ, ancaman terbesar manusia modern bukan lagi kemiskinan fisik, melainkan hilangnya ruang keheningan.
Akhirnya! Ingatlah!
Cara terbaik melawan kegelapan bukan dengan lampu yang lebih terang, melainkan menjaga cahaya nurani tetap menyala dalam dada.
Opa Jappy | Pro Life Indonesia
