Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Pada Masa Kemarin, orang tua mengajar anak-anak agar menghindari ancaman dan kejahatan melalui menjauhi atau pun tidak berkomunikasi dengan orang asing. Kini, Predator Child Grooming menyelinap langsung ke dalam kamar tidur melalui cahaya redup layar ponsel. Mereka datang tanpa paksaan, melainkan menyusup lewat kesabaran, pujian, dan hadiah digital. Itulah metode para penjahat; mereka membawa metode baru bagi bahaya untuk mendekati orang-orang tercinta.
Modus Predator Child Grooming seperti itu, terjadi di mana-mana. Di Indonesia, Penjahat Kelamin tersebut (dari hasil investigasi senyap dalam frame Kampanye Anti Predator Child Grooming) bersembunyi dengan topeng guru, pembina, paman, kakak, bahkan pembimbing spiritual atau keagamaan (misalnya terungkap adanya ratusan kasus eksploitasi seksual di Institusi Pendidikan Berasrama). Mereka ada pada semua latar belakang profesi dan strata sosial, agama, jenjang pendidikan. Itulah yang saya sebut sebagai Pandemi Predator Child Grooming.
Umumnya, korban kejahatan Predator Child Grooming tak berani melapor karena sendirian, takut disalahkan, mendapat ancaman, serta tekanan psikologis lainnya. Oleh sebab itu, anak-anak dan remaja (korban Predator Child Grooming) perlu memahami bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Kehadiran orang dewasa yang mendengar serta melindungi, mampu menumbuhkan keyakinan adanya ruang aman. Ruang aman yang membantu mereka melangkah menuju masa depan tanpa bayang-bayang ketakutan.
Sayangnya, menghadapi situasi tersebut, banyak orang abai; mereka mengalami tuli, dan bisu empati kemanusiaan. Sehingga tak peduli, seakan "Paduan Suara Bukan Urusan Gue!" Semuanya diam! Namun, ketika ada kasus yang terungkap maka "Paduan Suara Tuli Buta Bisu" itu serentak bersuara lantang seakan pahlawan kemanusiaan. Sungguh, suatu kemunafikan sosial di atas puncak tumpukan sampah. Cerminan pembiaran publik terhadap kasus-kasus kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja.
Oleh sebab itu, saatnya Anda kenakan kostum keberanian bersuara dan minum obat anti Tuli Buta Bisu empati terhadap kemanusiaan, karena setiap hari ada ratusan Anak-anak dan Remaja RI menjadi korban kekerasan seksual termasuk dengan Modus Child Grooming. Anda harus menjadi benteng utama menghentikan aksi-aksi yang dilakukan oleh Predator Child Grooming.
Ingatlah ....!
Menjaga anak berarti merawat keberlangsungan peradaban. Mereka merupakan anggota keluarga sekaligus pemegang estafet masa depan bangsa.
Membiarkan anak-anak menjadi korban Predator Child Grooming, sama saja dengan membinasakan hari esok.
Oleh karena itu, Seluruh elemen masyarakat membentuk ekosistem perlindungan yang saling terintegrasi.
Kekuatan utama terletak pada keberanian. Tindakan nyata harus diambil sebelum tragedi menghancurkan mahkota dan kehormatan keluarga.
Anak-anak adalah mahkota, kehormatan, serta kemuliaan lingkungan sekitar. Langkah taktis harus dimulai detik ini juga dari lingkungan terkecil tanpa perlu menunggu kasus terungkap, menunggu gerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), ataupun instruksi birokrasi dari pejabat dan aparat penegak hukum.
Penajaman intuisi dan peningkatan literasi digital wajib diwujudkan dalam aksi nyata sekarang. Ruang percakapan terbuka mengenai batasan tubuh, privasi, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas siber anak harus langsung diaktifkan di meja makan setiap rumah. Inisiatif mandiri setiap individu adalah batu bata kokoh yang langsung menyusun benteng pertahanan tanpa menunda waktu.
Seluruh lapisan masyarakat harus bergerak mandiri menjadi mata bagi anak-anak yang belum mengerti bahaya, sekaligus menjadi pelopor suara untuk mendobrak kelalaian lingkungan sekitar. Penjagaan ketat yang dimulai mandiri hari ini merupakan satu-satunya jaminan keamanan konkret bagi masa depan. Jangan menunda bertindak; rapatkan barisan sekarang juga dalam satu garis pertahanan demi melindungi mahkota bangsa.
