Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Neologisme Sindrom Tak Mau Dibantah. Konseptualisasi Penggabungan istilah medis (sindrom) dengan pendekatan sosiologi dan psikologi perkembangan untuk menggambarkan kondisi psikologis-sosial seseorang yang tak berdaya menoleransi perbedaan pandangan.
Sindrom Tak Mau Dibantah, Neologisme (dari Opa Jappy) sangat relevan dengan realitas kekinian. Sindrom Tak Mau Dibantah menandai suatu kondisi psikologis-sosial ketika seseorang menolak setiap bentuk koreksi, bantahan, maupun gagasan luar yang bertentangan dengan keyakinannya.
Secara psikologis, Sindrom Tak Mau Dibantah lahir dari persepsi superioritas semu. Individu merasa "paling tahu," senior, atau memiliki posisi kekuasaan membangun tembok ketegaran palsu. Nampak pada respon emosional yang reaktif, seperti nada bicara meninggi, kemarahan, atau bahkan umpatan ketika dikritik, sebenarnya merupakan mekanisme kerapuhan pertahanan diri.
Manifestasi emosional itu untuk menutupi ketakutan, kerapuhan argumen, dan ketidakmampuan berkompromi. Sehingga bersikap defensif berlebihan serta melakukan penolakan; padahal topeng menutupi kelemahan jiwa atau keterbatasan pemahaman. Si Penderita Sindrom lupa bahwa dinamika interaksi sosial kontemporer, kematangan berpikir seseorang tidak diukur dari senioritas, gelar, kedudukan, kekuasaan dan posisi sosial lainnya; tapi keterbukaan terhadap kritik dan perbedaan pandangan.
"Sindrom Tak Mau Dibantah" menjadi cermin kritis untuk semua pada kebersamaan interaksi hidup dan kehidupan. Keterbukaan pikiran (open-mindedness) dan keluwesan berpikir (cognitive flexibility) bukanlah bentuk kelemahan, melainkan fondasi utama menciptakan masyarakat yang dewasa, toleran, dan sanggup merawat keadilan sosial melalui dialog yang sehat.
