Opa Jappy Lukisastra
Opa Jappy Lukisastra Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Neologisme "Sindrom Tak Mau Dibantah"

22 Juli 2026   04:05 Diperbarui: 22 Juli 2026   08:56 284 1 0

Sindrom Tak Mau Dibantah | Lukisastra
Sindrom Tak Mau Dibantah | Lukisastra



Sindrom Tak Mau Dibantah atau Innegabilis Syndrome dalam Ruang Publik | Ego Superioritas dan Matinya Dialektika

Neologisme Sindrom Tak Mau Dibantah. Konseptualisasi Penggabungan istilah medis (sindrom) dengan pendekatan sosiologi dan psikologi perkembangan untuk menggambarkan kondisi psikologis-sosial seseorang yang tak berdaya menoleransi perbedaan pandangan.

Sindrom Tak Mau Dibantah, Neologisme (dari Opa Jappy) sangat relevan dengan realitas kekinian. Sindrom Tak Mau Dibantah menandai suatu kondisi psikologis-sosial ketika seseorang menolak setiap bentuk koreksi, bantahan, maupun gagasan luar yang bertentangan dengan keyakinannya.


Secara psikologis, Sindrom Tak Mau Dibantah lahir dari persepsi superioritas semu. Individu merasa "paling tahu," senior, atau memiliki posisi kekuasaan membangun tembok ketegaran palsu. Nampak pada respon emosional yang reaktif, seperti nada bicara meninggi, kemarahan, atau bahkan umpatan ketika dikritik, sebenarnya merupakan mekanisme kerapuhan pertahanan diri.

Manifestasi emosional itu untuk menutupi ketakutan, kerapuhan argumen, dan ketidakmampuan berkompromi. Sehingga bersikap defensif berlebihan serta melakukan penolakan; padahal topeng menutupi kelemahan jiwa atau keterbatasan pemahaman. Si Penderita Sindrom lupa bahwa dinamika interaksi sosial kontemporer, kematangan berpikir seseorang tidak diukur dari senioritas, gelar, kedudukan, kekuasaan dan posisi sosial lainnya; tapi keterbukaan terhadap kritik dan perbedaan pandangan.

  • Dampak mewabahnya Sindrom Tak Mau Dibantah tidak berhenti pada ranah individu, tapi merusak tatanan sosial yang lebih luas.
  • Diskusi Berbasis Data & Logika. Ketika bantahan dan kritik dinilai sebagai serangan pribadi, tidak mencari kebenaran, ruang dialektika menjadi runtuh. Gagasan inovatif dan iklim berpikir kritis otomatis terhenti.
  • Degradasi Hubungan Antara Manusia. Interaksi yang diwarnai keagresifan dan penolakan mendengar, menciptakan jurang komunikasi yang destruktif.
  • Polarisasi dan Konflik Horisontal. Di ranah publik maupun politik, dominasi sikap tak mau dibantah mempertajam kubu-kubu perselisihan. Ketika dialog konstruktif buntu, potensi kekerasan verbal hingga fisik dapat meletus akibat pemaksaan kehendak secara sepihak.


"Sindrom Tak Mau Dibantah" menjadi cermin kritis untuk semua pada kebersamaan interaksi hidup dan kehidupan. Keterbukaan pikiran (open-mindedness) dan keluwesan berpikir (cognitive flexibility) bukanlah bentuk kelemahan, melainkan fondasi utama menciptakan masyarakat yang dewasa, toleran, dan sanggup merawat keadilan sosial melalui dialog yang sehat.


Opa Jappy, Lukisastra | Pencipta Kata


Lukisastra | Lukisastra
Lukisastra | Lukisastra