Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Neologisme "Virus Tuli, Buta, Bisu Empati Kemanusiaan" sebagai kritik tajam terhadap abai sosial, menurunnya kepedulian, dan semakin marak sikap pembiaran di ruang publik. Diksi yang mencerminkan kemunduran nilai-nilai kemanusiaan pada hidup dan kehidupan bermasyarakat serta krisis moral.

Manifestasi Utama Virus Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan
Buta Sosial. Masyarakat yang terpapar Buta Sosial berpura-pura menutup mata dan enggan mengakui keberadaan ketidakadilan, penindasan, ataupun indikasi kekerasan yang terjadi tepat di lingkungan sekitarnya.
Tuli Moral. Ketulian sosial ditunjukkan dengan sikap sengaja menutup telinga rapat-rapat dari jeritan penderitaan korban, keluhan warga, hingga peringatan potensi bahaya keretakan moral.
Bisu Kemanusiaan. Sikap enggan bersuara, enggan melaporkan tindak kejahatan, serta menolak menjadi saksi demi melindungi korban. Sikap ini umumnya dilandasi oleh rasa takut bahwa kenyamanan dan posisi pribadinya terganggu.

Dampak Sistemik pada Hidup dan Kehidupan bermasyarakat. Penyebaran virus ketidakpedulian itu memicu dampak kolektif yang sangat berbahaya pada kelangsungan tatanan sosial.
Sikap Diam Terhadap Kejahatan. Pasifnya publik membuat berbagai tindakan kriminal, termasuk kasus kekerasan terhadap anak marak terjadi di ruang sekitar, berlangsung tanpa hambatan.
Egoisme Akut. Munculnya kebiasaan masyarakat yang baru bersuara atau bertindak reaktif hanya apabila kepentingan pribadi maupun kelompoknya merasa terancam.
Normalisasi Krisis dan Matinya Nurani: Penderitaan sesama tidak memicu rasa iba, tapi dinilai sebagai sesuatu yang biasa atau sekadar masalah internal masing-masing individu.
Mencermati Ekses Menghancurkan dari Virus Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan tersebut, sudah saatnya masyarakat memulihkan kembali kepekaan rasa dan nurani. Itu juga bermakna harus mampu memberlakukan orang lain sebagai sesama dalam kemanusiaan; sekaligus berani meruntuhkan tembok-tembok perbedaan termasuk sentimen SARA.
Melawan "virus Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan" membutuhkan keberanian kolektif agar kembali melihat, mendengar, dan menyuarakan kebenaran demi menjaga martabat serta keadilan sesama manusia.