Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kebencian tak mendadak muncul, namun lahir dari ketidakmampuan menerima realitas, menumpuknya keputusasaan, kecemasan menghadapi masa depan, hingga stres akut yang tak tertangani. Ketika seseorang memelihara kebencian tanpa kendali dan dilemparkan secara serampangan, maka bukan sekadar emosi sesaat, tapi penyakit jiwa, Morbos Mentis Odii.
Kebencian bukan identitas kemanusiaan melainkan patologi emosional, batu besar yang terus dipikul hingga merusak kapasitas otak untuk berpikir rasional dan berempati. Pada sikon dan konteks itu, Saya memperkenalkan Neologisme Orang dengan Beban kebencian atau ODBK. Orang Dengan Beban Kebencian; kondisi psikososial yang sejajar dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan maupun ODHA(Orang dengan HIV/AIDS).
Biasanya kecewa, benci, atau marah pada seseorang dipicu oleh pemicu awal, causa prima, dan dapat selesai dalam waktu singkat. Namun, ketika konflik tak terselesaikan, maka menjadi kebencian dan dendam kronis. Serta sebagai racun merusak hubungan sosial, tatanan masyarakat, hingga bernegara, bahkan menjelma menjadi kebencian buta terhadap kelompok SARA.
Orang dengan Beban Kebencian atau Homo cum Onere Odii (Latin). Homo, Manusia/Orang sebagai entitas bermoral dan berakal; cum Onere, dengan beban. Indikasi bahwa kebencian bukan sifat alami bawaan lahir tapi beban dari eksternal yang diambil, dipikul, dan mengimpit jiwa pengidapnya. Odii, kebencian telah mengkristal atau odium.
Orang dengan Beban Kebencian bisa disebut Person Living with the Burden of Hate; seseorang yang kapasitas kognisi dan mentalnya habis karena memelihara dendam, mencari kesalahan orang lain, dan menyusun narasi permusuhan. Bentuknya beragam, seperti sikap, aksi, orasi, dan narasi kebencian yang sudah tertanam dalam semua proses hidup dan kehidupan, bahkan ditutur-turunkan atau diwariskan ke generasi berikut.
ODBK umumnya menunjukkan beberapa gejala sosial. Ciri-ciri tersebut di sekitar Anda; serta bisa merusak cara kerja otak dan persepsi realitas. Ciri-ciri ODBK antara lain
Kelompok Rentan ODBK. Meski banyak orang berhasil mengikis kebencian; ada kelompok sangat rentan sebagai ODBK. Misalnya

Pada konteks kekinian, ada fakta yang memprihatinkan, "Sangat banyak manusia yang mengakhiri hidupnya, baik secara fisik maupun metaforis, dalam keadaaan kebencian." Karena racun kebencian menggerogoti diri dan merusak orang lain. Dan, lupa bahwa, "Manusia tidak dilahirkan dengan DNA atau saraf kebencian." Kebencian adalah produk konstruksi yang kompleks; bersumber dari

"Kemanusiaan adalah fondasi; Kebencian adalah beban yang merubuhkannya." Manusia dilahirkan dengan potensi nilai-nilai luhur kemanusiaan; namun, ketika memilih sebagai ODBK, Orang dengan Beban Kebencian, Homo cum Onere Odii), maka ia atau mereka menukarkan kemanusiaannya dengan beban berat yang tak berguna. Kebencian membutakan mata hati, mengikis empati, dan merusak akal sehat.
Mengakui ODBK sebagai bentuk gangguan sosial-psikologis adalah langkah awal untuk mengingatkan kita semua: kembali ke rasa kemanusiaan sebelum terlambat.
Pilihan selalu ada di tangan Anda.
Bojong, Jawa Barat | 12 Juli 2020