Opa Jappy Lukisastra
Opa Jappy Lukisastra Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Neologisme, "Orang dengan Beban Kebencian"

31 Juli 2026   04:05 Diperbarui: 31 Juli 2026   07:27 328 7 2

Neologisme | Opa Jappy
Neologisme | Opa Jappy



Orang dengan Beban Kebencian, ODBK | Kebencian sebagai Morbos Mentis 


Kebencian tak mendadak muncul, namun lahir dari ketidakmampuan menerima realitas, menumpuknya keputusasaan, kecemasan menghadapi masa depan, hingga stres akut yang tak tertangani. Ketika seseorang memelihara kebencian tanpa kendali dan dilemparkan secara serampangan, maka bukan sekadar emosi sesaat, tapi penyakit jiwa, Morbos Mentis Odii. 

Kebencian bukan identitas kemanusiaan melainkan patologi emosional, batu besar yang terus dipikul hingga merusak kapasitas otak untuk berpikir rasional dan berempati. Pada sikon dan konteks itu, Saya memperkenalkan Neologisme Orang dengan Beban kebencian atau ODBK. Orang Dengan Beban Kebencian; kondisi psikososial yang sejajar dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan  maupun ODHA(Orang dengan HIV/AIDS).

Biasanya kecewa, benci, atau marah pada seseorang dipicu oleh pemicu awal, causa prima, dan dapat selesai dalam waktu singkat. Namun, ketika konflik tak terselesaikan, maka menjadi kebencian dan dendam kronis. Serta sebagai racun merusak hubungan sosial, tatanan masyarakat, hingga bernegara, bahkan menjelma menjadi kebencian buta terhadap kelompok SARA.

Orang dengan Beban Kebencian atau Homo cum Onere Odii (Latin). Homo, Manusia/Orang sebagai entitas bermoral dan berakal; cum Onere, dengan beban. Indikasi bahwa kebencian bukan sifat alami bawaan lahir tapi beban dari eksternal yang diambil, dipikul, dan mengimpit jiwa pengidapnya. Odii, kebencian telah mengkristal atau odium.

Orang dengan Beban Kebencian bisa disebut Person Living with the Burden of Hate; seseorang yang kapasitas kognisi dan mentalnya habis karena memelihara dendam, mencari kesalahan orang lain, dan menyusun narasi permusuhan. Bentuknya beragam, seperti sikap, aksi, orasi, dan narasi kebencian yang sudah tertanam dalam semua proses hidup dan kehidupan, bahkan ditutur-turunkan atau diwariskan ke generasi berikut.

ODBK umumnya menunjukkan beberapa gejala sosial. Ciri-ciri tersebut di sekitar Anda; serta bisa merusak cara kerja otak dan persepsi realitas. Ciri-ciri ODBK antara lain

  • Mental Gang Perlawanan. Merasa hanya kelompoknya  paling benar dan menilai yang lain sebagai musuh.
  • Disfungsi Sosial, Social Disorder, Mengalami kerenggangan hubungan dengan lingkungan sekitar
  • Hostilitas Tanpa Alasan. Selalu menunjukkan sikap bermusuhan secara konstan.
  • Kecenderungan Destruktif. Mudah tersulut melakukan tindakan melawan hukum.


Kelompok Rentan ODBK. Meski banyak orang berhasil mengikis kebencian; ada kelompok sangat rentan sebagai ODBK. Misalnya

  • Orang Tua yang Menyimpan Dendam. Mereka sudah lanjut usia namun belum mampu membersihkan hati dari kebusukan emosional masa lalu.
  • Aktor Politik Frustrasi. Pihak-pihak yang membungkus agenda pribadi dan kebencian atas nama kritik politik
  • Barisan Sakit Hati. Individu gagal mengolah kekecewaan dan mencari pelampiasan Keluar kelompok Frustrasi Sosial. Orang yang kalah bersaing dan mudah dimanipulasi oleh sosok-sosok provokatif.
  • Mereka yang posisi dan populeritasnya tergeser karena kehadiran orang lain. Mereka bukan melakukan introspeksi, perbaikan, dan introspeksi diri, tapi menunjukkan orasi serta narasi kebencian plus permusuhan.

Orang dengan Beban Kebencian
Orang dengan Beban Kebencian

Mori in Statu Odite | Mati Dalam Keadaan Membenci.

Pada konteks kekinian, ada fakta yang memprihatinkan, "Sangat banyak manusia yang mengakhiri hidupnya, baik secara fisik maupun metaforis, dalam keadaaan kebencian." Karena racun kebencian menggerogoti diri dan merusak orang lain. Dan, lupa bahwa, "Manusia tidak dilahirkan dengan DNA atau saraf kebencian." Kebencian adalah produk konstruksi yang kompleks; bersumber dari

  • Tafsir Agama yang Menyimpang. Kitab suci diputarbalikkan menjadi alat pemecah belah.
  • Kebencian Doktrinal. Kebencian yang diwariskan dari orang tua/lingkungan kepada generasi penerus.
  • Eksploitasi Sentimen SARA. Perbedaan yang disalahgunakan untuk menciptakan polarisasi.
  • Residu Politik. Kegagalan persaingan politik yang memicu dendam politik serta kebencian holistik
  • Dengki dan Iri Hati. Ketidakmampuan melihat keberhasilan orang lain.
  • Trauma Masa Lalu. Luka akibat ketidakadilan yang tidak disembuhkan.

Neologist | Opa Jappy
Neologist | Opa Jappy
Memutus Rantai Kebencian. Mati dalam keadaan membenci adalah tragedi kemanusiaan. Oleh sebab itu, kebencian tak boleh dibiarkan dan diwarisan ke generasi mendatang. Jika Anda menyadari bahwa sebagai ODBK; berhentilah menularkan kepada orang lain Sembuhkan dirimu sebelum kebencian itu menghancurkan sisa hidup dan kehidupan Anda.

"Kemanusiaan adalah fondasi; Kebencian adalah beban yang merubuhkannya." Manusia dilahirkan dengan potensi nilai-nilai luhur kemanusiaan; namun, ketika memilih sebagai ODBK, Orang dengan Beban Kebencian, Homo cum Onere Odii), maka ia atau mereka menukarkan kemanusiaannya dengan beban berat yang tak berguna. Kebencian membutakan mata hati, mengikis empati, dan merusak akal sehat.

Mengakui ODBK sebagai bentuk gangguan sosial-psikologis adalah langkah awal untuk mengingatkan kita semua: kembali ke rasa kemanusiaan sebelum terlambat.

Pilihan selalu ada di tangan Anda.


Bojong, Jawa Barat | 12 Juli 2020

Opa Jappy | Pro Life Indonesia