Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana
Label Admin, Estetika Penulisan, dan Kebanggaan Lucu
Ketika "terjun kembali" ke Kompasiana, saya gunakan sebagai Medium Penyampai Public Service Announcement ke aktivis di Daerah; itu saja. Bukan mencari Validasi, Panggung Narsisme, serta membentuk Personal Branding, dll. Sehingga tetap mempertahankan Estetika Literasi melalui Menulis dengan Kata-kata (suatu disiplin Write Art). Pendekatan penulisan yang menolak Redudansi, Template Words, serta Teks-teks Otomatis AI.
Katakanlah, tak ada pengulangan kata seperti "di, ke, dia, ia, sebuah, yang; bahkan nama diri" pada satu kalimat dan paragraf (tersirat sebagai Literasi Narsisme atau Liternarsisme). Atau, diksi-diksi seperti, "maju ke depan, adalah merupakan, sebuah sekolah, sebuah rencana, sebuah perusahaan, dll (penggunaan salah kaprah kata "sebuah"). Serta, tulisan yang "hanya satu kalimat pada paragraf" (karena Otomatisasi AI), kronologi tak nyambung, dan seterusnya. Sayangnya, tulisan-tulisan tanpa Estetika itu justru mendapat Label. Trus jadi kebanggaan (di Grup WA) pula pada diri Si Penulis, "Artikel Saya menjadi Pilihan Admin!"
Dengan disiplin Write Art, kemudian melahirkan neologisme Lukisastra, bagaimana mungkin saya harus memberi Label dan Komentar pada Artikel (di Kompasiana) yang tak ada Estetika Penulisan? "Ogah Komentari, Walau ada Label dari Admin!" Jika Saya berikan Label; maka pasti klik "Aktual;" karena setiap Artikel, dari arah penulis adalah Aktual.
