Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Proses Menciptakan Kata-kata Baru

7 Agustus 2026   04:05 Diperbarui: 6 Agustus 2026   17:11 231 2 0

Menciptakan Kata-kata | Opa Jappy
Menciptakan Kata-kata | Opa Jappy

Seni menciptakan kata-kata baru atau Neologisme | Kata Melampaui Buku. Menciptakan kata baru dianggap sebagai pencapaian intelektual yang lebih sulit dan langka dibandingkan menulis buku fisik, karena kata adalah unit terkecil dari pengetahuan yang lahir dari kerja otak, bukan sekadar biaya cetak.

Neologisme bukan sekadar menggabungkan huruf, melainkan abstraksi tingkat tinggi untuk merangkum fenomena sosial yang kompleks ke dalam satu diksi yang intuitif. Seleksi Alam Bahasa. Kata baru ibarat makhluk hidup; harus mampu menyentuh nalar kolektif masyarakat agar tidak mati dan hilang tanpa bekas. Kelangsungan hidup sebuah kata bergantung pada apakah kata tersebut diadopsi oleh publik.

  1. Metodologi khusus dalam menciptakan kata
  2. Non-reduksi. Menghindari pengulangan kata yang tidak perlu.
  3. Non-template. Menghindari klise atau jargon yang sudah pasaran.
  4. Non-otomatisasi AI. Sentuhan akhir harus melibatkan kognisi dan emosi manusia.

Tahapan Menciptakan Kata. Langkah-langkah untuk mencoba membuat kata sendiri meliputi pembiasaan menulis, kurasi mandiri, verifikasi empiris di mesin pencari (memastikan kata tersebut belum ada/orisinal), hingga merilisnya ke Area Publik


Berproses agar bisa menciptakan Kata-kata bukan sekedar menulis/menghasilkan/publikasi Artikel. Tapi, pembiasaan Menulis dengan Pendekatan Estetika Write Art atau Melukis dengan Kata-kata

  1. Non Redudansi. Non-redundan; tidak ada ada kata yang sama pada satu kalimat. Misalnya "yang, dan, kita, saya, sebuah, dan lainnya sebagainya, cukup hanya sekali disebut ada pada kalimat; sangat banyak kosakata pengganti
  2. Non Template Words; tanpa kata-kata otomatis dan pasaran, populer; seperti hasil "pabrik kata" dari internet sehingga membuat kalimat berputar-putar; termasuk tanpa banjir nama (sendiri) di paragraf, dll
  3. Non Otomatisasi AI. AI hanya bersifat arsip, asisten, dan penyiapan draft atau menghindari ketergantungan penuh. Manusia lah, dengan kekuatan kognisinya, yang melakukan penyelesaian akhir. Hal tersebut demi menjaga otentisitas karya, orisinalitas, dan sentuhan emosi manusia.

Jika sudah mencapai penulisan dengan Pendekatan Write Art (ini perlu disiplin, tekad, dan niat); dilanjutkan dengan

  1. Menciptakan Frasa atau pun Diksi Baru; paling mudah dengan cara membaca ulang artikel-artikel yang pernah ditulis; Kemudian publikasi gagasan filosofi di dalamnya dan penggunaannya
  2. Hindari frasa dan diksi tanpa penjelasan filosofis serta kegunaannya di Ruang Literasi Publik
  3. Kontempelasi agar menemukan Kata Baru; melalui atau di dalam artikel-artikel yang pernah ditulis sebelumnya.

Jika menemukan "Kata Baru" hasil oleh pikir sendiri, maka lakukan Kurasi Mandiri. Diksi atau frasa baru harus ditopang oleh landasan filosofi serta kejelasan fungsi dalam ruang literasi. Kata baru tanpa penjelasan teoretis dan kegunaan praktis hanya akan menjadi jargon kosong.

  1. Tulis Kata Baru itu di Google atau Platform AI lainnya (sebanyak mungkin) agar mendapatkan kepastian bahwa Kata Baru (ciptaan sendiri) itu, benar-benar original atau belum pernah ada. Melakukan verifikasi  (melalui penelusuran mesin pencari/platform) untuk memastikan bahwa kata yang dihasilkan belum pernah digunakan pada domain publik.
  2. Publikasi "Kata Baru" tersebut sebagai Neologisme
  3. Jangan Lelah berproses sehingga mencapai Lukisastra

Ingatlah! Kata Baru atau Neologisme tak muncul secara instan di pikiran; tapi melalu proses olah Kognisi


Neologisme dari Opa Jappy

1. Amputasi Komunikasi

2. Denial Politik

3. Distorsi Integritas

4. Estetika Literasi

5. Hermeneutika Politik

6. Intelektual Kikir

7. Jurnalisme Daur Ulang

8. Kematian Kognisi

9. Klaster Endemi Predator Child Grooming

10. Liternarsisme atau Literasi Narsisme

11. Lukisastra

12. Mayoritas Diam

13. Minoritas Terpinggirkan dan Mayoritas Penentu

14. OdBK, Orang dengan Beban Kebencian

15. Politisi Halunistik dan Halunistik Politik

16. Sindrom Tuli Buta Bisu Empati Kemanusiaan

17. Sindrom Tak Mau Dibantah

18. Vandalisme Literasi


1 Agustus 2026

Opa Jappy, Lukisastra  | Pencipta Kata