Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Di atas tanah yang sama, jutaan manusia tumbuh dan menaikan doa untuk Negeri Tercinta agar tetap ada dan eksis. Itu adalah panggilan nurani karena Bangsa Indonesia didirikan di atas filosofi luhur Ibu Pertiwi, mahakarya yang ditenun dari benang keberagaman, toleransi, dan semangat gotong royong. Namun, ketika memasuki ruang digital, narasi indah tersebut bertabrakan keras dengan realitas tajam dan sinis. Media sosial dipenuhi sebutan "Konoha" untuk merujuk pada Indonesia. Tragisnya, mereka berucap "Konoha" itu masih ada di Negeri ini; tak pindah Negara.
"Konoha" adalah Area Fiktif anime Naruto, namun diplesetkan menjadi akronim sinis yang merefleksikan kebobrokan sosial menjadi Kingdom of Nepotism, Oligarchy, and Hidden Ambition. Boleh-boleh saja! Namun, melabeli seluruh Negeri sebagai "Konoha" 100% bobrok adalah generalisasi berlebihan atau hyperbole. Generalisasi semacam itu, berarti menutup mata terhadap jutaan orang baik dan jujur yang terus bekerja keras membangun bangsa. Para pemberi label tersebut bersembunyi di balik akun anonim ketika menyebar kritik tanpa data dan solusi justru mencerminkan tindakan tidak bertanggung jawab.
Lawan Konoha adalah "Wakanda," Negara fiktif yang canggih, maju, dan tanpa cela. Sehingga jika sudah tak betah di NKRI, maka silahkan pindah ke Wakanda. Sindiran "pindah ke Wakanda" menjadi peringatan ironis bahwa tidak ada Negara di dunia nyata yang sempurna. Jadi, berharap pada utopia fiktif hanya bentuk upaya menjauhkan masyarakat agar menyelesaikan masalah bangsa.
Menjembatani Idealitas dan Realitas. Agaknya semuanya perlu belajar dari filosofi tradisional dari Nusa Tenggara Timur, "Bo le le bo, baik tak baik Negeri kita lebih baik; Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebeh Bae." Dalam artian seberat apa pun masalah dan ketidaksempurnaan yang ada, Indonesia tetap tanah air tempat dan dan tumbuh, lebih baik dari wilayah mana pun. Langkah nyata untuk membuktikan cinta pada negeri bukan dengan berhenti mengkritik, melainkan mengubah kritik dari sekadar nyinyiran merusak menjadi usula konstruktif dan berbasis data.
Sinisme "Konoha" dan Cinta Tanah Air
Oleh Opa Jappy | Indonesia Hari Ini