Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Esai Digital, "Krisis Identitas Modern"

13 September 2026   13:36 Diperbarui: 13 September 2026   13:36 262 0 0

Krisis Identitas|Opa Jappy
Krisis Identitas|Opa Jappy

Riuh kolektif masyarakat modern kerap bertopeng sebagai solidaritas politik atau artikulasi iman. Sehingga, sering terjadi, ukuran keagamaan, kedewasaan iman, keheningan jiwa diukur dari teriakan tentang perang di negeri asing (dengan alasan membela dan solidaritas pada mereka yang tertindas. Padahal, jika dibedah melalui kacamata psikologi perkembangan, keriuhan tersebut merupakan gejala eskapisme, mekanisme kompensasi akibat kegagalan menuntaskan proses pendewasaan diri di dunia nyata.



Perjalanan Hidup dan Kehidupan Manusia merupakan Proses Berkesinambungan. Merujuk pemikiran Elizabeth B. Hurlock dan Robert Havighurst, tiap tahapan usia membawa tugas perkembangan (developmental tasks) spesifik. Keberhasilan melampaui satu tahap menjadi penentu ketuntasan tahapan berikutnya. Kedewasaan sejati menuntut integrasi utuh antara kematangan fisik, kecerdasan intelektual, kemandirian emosional, dan tanggung jawab sosial. Kedewasaan bukan sekadar angka pada kalender, melainkan kemampuan mengambil peran nyata di lingkungan terdekat.

Kegagalan ketidaktuntasan perkembangan melahirkan bahaya internal (developmental hazards). Akarnya bermula dari pola pengasuhan masa kecil. Model pengasuhan otoriter yang mengekang tanpa alasan, atau cara permisif tanpa batas yang jelas, merusak fondasi berpikir kritis. Individu tumbuh dewasa secara fisik, namun secara psikologis lumpuh, gagap beradaptasi, serta kehilangan arah identitas. Lebih parahnya, jika jalan tersebut terus menerus terjadi, maka individu mengalami Kekosongan Identitas.

Kekosongan Identitas memicu dorongan mencari simbol perjuangan semu. Misalnya, menggebu-gebu membela konflik jarak jauh menjadi jalan pintas demi meraih rasa memiliki (sense of belonging). Kebisingan di ruang publik dipakai menutupi ketidakmampuan mengurus hidup sendiri.

Oleh sebab itu, makna heroisme perlu diredefinisi. Ukuran pahlawan modern bukan  keberanian angkat senjata atau kelihaian berteriak tentang pertempuran di tempat jauh.  Tapi, heroisme modern terletak pada keberhasilan menuntaskan ujian perkembangan pribadi: menguasai emosi, mengasah kapasitas diri, dan memberi dampak nyata bagi komunitas sekitar.

Psikologi perkembangan menentukan kualitas suatu bangsa. Sebelum sibuk memandang keluar, tataplah ke dalam diri. Sudahkah tugas perkembangan pribadi tuntas? Kedewasaan sejati selalu bermula dari keberhasilan menata ruang hidup dan kehidupan sendiri sebelum berambisi mengubah dunia.

Opa Jappy | Pro Life Indonesia


Teks Sumber Bahasan di Esai Digital 

Psikologi Perkembangan | Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan
Penulis, Elizabeth B. Hurlock
Penerbit, Erlangga, 2003
ISBN: 978-602-6922-31-1


Orang Indonesia dan Krisis Pahlawan oleh Opa Jappy