Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Dokumen Perdamaian Terlupakan Akibat Tribalisme dan Polarisasi Algoritma
Percepatan teknologi digital membawa dinamika sosial ke dalam sekat eksklusivisme. Benturan kelompok, politik identitas, dan sentimen keagamaan terus diproduksi lalu diperluas oleh algoritma media sosial. Pada situasi rentan itu, lahir cetak biru kemanusiaan pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi. Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar Ahmad Al-Tayyeb menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama, langkah moral pimpinan agama dunia demi menyelamatkan peradaban.
Namun, Saya (Opa Jappy) menyoroti fakta pahit, Dokumen Abu Dhabi justru tenggelam menjadi arsip terabaikan. Padahal, Dokumen Abu Dhabi membawa wacana revolusioner terhadap pemahaman sosiologis maupun teologis. Keberagaman ras, warna kulit, hingga agama ditegaskan sebagai kehendak Ilahi. Pemaksaan keseragaman merupakan bentuk perlawanan atas kehendak Perancang Alam. Selain itu, Dokumen Abu Dhabi meruntuhkan stigma penghubung terorisme dengan keimanan tertentu. Akar terorisme bukan berasal dari ajaran agama, melainkan hasil manipulasi pemahaman kitab suci berpadu kemiskinan, ketidakadilan sosial, serta kesombongan politik.
Dokumen Abu Dhabi mencakup, hal yang krusial, rekonseptualisasi hubungan kemasyarakatan dari dikotomi "mayoritas--minoritas" menuju "kewarganegaraan penuh" (full citizenship). Label minoritas secara halus menciptakan hierarki sosial, memicu rasa terisolasi, sekaligus memberi perasaan memiliki hak lebih bagi kelompok dominan. Pengisian hak kesetaraan warga negara mampu memangkas potensi gesekan struktural sejak dini.
Pada tingkat lokal Indonesia, semangat tersebut berkelindan dengan Piagam Bogor (2018). Piagam Bogor memberikan panduan etis harian melarang menilai atau menghakimi teologi keyakinan lain menggunakan kacamata ajaran sendiri. Setiap agama memiliki sistem operasinya masing-masing, sehingga tidak logis memaksa kebenaran satu tradisi untuk mengukur tradisi lain.
Pada konteks dan sikon kekinian, Dokumen Abu Dhabi terlupakan karena dinamika ekonomi perhatian (attention economy) serta jebakan formalisme agama. Media sosial bekerja berbasis algoritma pemprioritas kemarahan, polarisasi, dan narasi sensasional demi mengejar engagement. Pesan damai kalah jauh dibanding unggahan provokatif. Sementara itu, masyarakat kerap terjebak formalisme, meninggikan simbol serta ritual luar, tetapi mengabaikan substansi kasih dan keadilan.
Aktivasi roh Dokumen Abu Dhabi serta Piagam Bogor membutuhkan konversi dari wacana elit menuju tindakan nyata. Integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, pembahasan di mimbar ibadah, serta pendorong nalar kritis publik menjadi syarat mutlak. Menghapus perbedaan tidak berarti meleburkan identitas, melainkan mengikis jarak permusuhan. Kejujuran nurani serta komitmen kemanusiaan tetap menjadi penuntun utama agar masyarakat tidak kehilangan arah.
Opa Jappy | Pro Life Indonesia
Indonesia Hari Ini