pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Negeri yang Lupa Cermin

28 Agustus 2026   19:33 Diperbarui: 28 Agustus 2026   19:33 66 0 0


Negeri yang Lupa Cermin

Di alun-alun negeri yang riuh oleh pidato pembangunan,
negara berdiri gagah membawa seribu rencana,
mengangkat bendera intervensi ke langit harapan,
seraya menunjuk pasar sebagai biang segala luka,
seolah seluruh kegagalan lahir dari tangan yang tak terlihat,
sementara cermin di ruang kekuasaan ditutupi kain pujian,
agar wajah sendiri tak perlu diperiksa.

Pasar dituduh menciptakan jurang dan ketimpangan,
lalu negara datang sebagai pahlawan berkereta program,
membawa hilirisasi, koperasi, badan baru, dan janji pangan,
setiap masalah dijawab dengan kantor dan kewenangan,
setiap luka dijahit dengan stempel dan peraturan,
namun rakyat bertanya dalam bisik yang nyaris tenggelam,
siapa yang mengawasi sang penolong ketika ia tersesat?

Di meja para pemikir lama tersimpan pesan yang berdebu,
bahwa negara bukan malaikat yang turun tanpa cacat,
ia memerlukan nurani, kecakapan, dan kendali yang kuat,
tetapi petuah itu sering kalah oleh gemuruh tepuk tangan,
ketika kekuasaan lebih cepat tumbuh daripada kapasitas,
rente menjelma akar yang menjalar diam-diam,
mengisap sari harapan dari batang pembangunan.

Betapa mudah menunjuk pasar sebagai terdakwa utama,
saat harga naik dan rupiah terhuyung diterpa angin dunia,
namun betapa sunyi ruang sidang bagi birokrasi yang lamban,
bagi regulasi yang beranak-pinak tanpa arah,
bagi korupsi yang menyelinap melalui celah kewenangan,
karena kegagalan negara sering berjalan tanpa suara,
meninggalkan jejak yang samar tetapi panjang.

Negeri ini kadang seperti pemain yang ingin menjadi wasit,
meniup peluit sekaligus menggiring bola ke gawang,
mengatur aturan sambil ikut berebut keuntungan,
lalu heran ketika pertandingan kehilangan keadilan,
warung kecil menepi dari jalan yang dahulu miliknya,
usaha rakyat mengecil di bawah bayang-bayang program raksasa,
sementara kompetisi berubah menjadi antrean kedekatan.

Di desa-desa, papan nama baru berdiri dengan gagah,
menawarkan masa depan dari rancangan yang turun dari atas,
namun warung tua memandangi jalan dengan cemas,
karena pelanggan kini mengikuti arah yang ditentukan,
satire paling getir lahir dari kenyataan sederhana,
ketika bantuan datang membawa ketergantungan,
dan kemandirian perlahan dianggap kemewahan.

Lalu negara membangun lagi rumah-rumah baru bagi solusi,
karena rumah lama gagal menjaga amanahnya sendiri,
sebuah lingkaran yang berputar seperti komidi kebijakan,
kegagalan dijawab dengan perluasan tangan yang gagal,
bukan dengan memperbaiki jantung tata kelolanya,
hingga rakyat menyaksikan ironi yang berulang,
obat dan penyakit lahir dari botol yang sama.

Maka sebelum menambah panjang daftar intervensi,
barangkali negeri perlu bercermin lebih lama,
mengingat bahwa kekuasaan pun memiliki batas dan bayangan,
bahwa pasar bisa salah, tetapi negara juga bisa tersesat,
dan kesalahan negara sering menagih ongkos lebih mahal,
karena ketika penjaga lupa menjaga dirinya sendiri,
seluruh rumah bernama bangsa ikut menanggung akibatnya.

Sumber: Teuku Riefky, "Melupakan Kegagalan Negara", dalam Kompas, Rabu, 3 Juni 2026, hlm. 6.