pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Generasi Celurit

7 Oktober 2026   19:15 Diperbarui: 7 Oktober 2026   19:15 73 0 0


Generasi Celurit


Di sebuah gang yang kehilangan senja,
seorang pelajar pulang sebagai jenazah,
darahnya mengering di ujung aspal,
sementara seragam sekolah yang dikenakannya
masih menyimpan bau buku dan cita-cita.

Malam itu celurit berkilat seperti piala,
diangkat tinggi oleh tangan-tangan belia,
yang belum genap memahami arti kehidupan,
tetapi sudah fasih menghafal cara melukai
sesama anak yang lahir dari negeri yang sama.

Mereka menyebutnya tawuran,
seolah hanya permainan remaja selepas sekolah,
padahal ada jerit ibu yang tak selesai berkabung,
ada masa depan yang dipotong sebelum tumbuh,
dan ada kemanusiaan yang perlahan dikuburkan.

Betapa aneh zaman ini:
anak-anak kekurangan taman untuk bermimpi,
namun berlimpah ruang untuk membenci;
kekurangan panggung untuk berkarya,
namun mudah menemukan alasan untuk berkelahi.

Negeri sibuk menghitung bonus demografi,
memasang spanduk Generasi Emas 2045,
tetapi di sudut-sudut kota yang pengap,
emas itu ditempa dengan celurit dan air keras,
bukan dengan ilmu, kasih, dan harapan.

Para pelaku memang ditangkap,
namun akar masalah terus dibiarkan tumbuh;
seperti rumput liar di tanah yang retak,
lahir dari sekolah yang kehilangan makna,
dan lingkungan yang lupa memeluk anak-anaknya.

Setiap tahun angka tawuran bertambah,
seperti laporan cuaca yang dibacakan berulang;
korban berganti nama, pelaku berganti wajah,
tetapi kisahnya tetap sama:
remaja melawan remaja dalam lingkaran luka.

Maka jangan hanya mengirim polisi ke jalanan,
jika rumah-rumah masih miskin perhatian,
jika sekolah gagal menyalakan nurani,
dan pembangunan meninggalkan banyak anak di belakang;
sebab generasi emas tak akan lahir dari generasi celurit.

Sumber: "Tawuran Membayangi Generasi Emas" dalam Kompas, Rabu, 10 Juni 2026, hlm. 6.